Jangan Sepelekan Mata Merah, Ini Bahayanya Bagi Retina
·waktu baca 3 menit

Gangguan pada retina, termasuk dampak peradangan seperti uveitis, acap mengancam diam-diam. Gejala umumnya, mata merah dan penglihatan kabur, yang kerap disepelekan. Terlambat disadari, kondisi tersebut bisa menyebabkan kerusakan retina permanen yang berujung kebutaan.
Retina merupakan bagian organ mata yang bertanggung jawab sebagai penghubung utama antara cahaya yang masuk ke mata menjadi sinyal visual ke otak. Gangguan sekecil apa pun pada retina berpotensi mengacaukan proses penglihatan secara keseluruhan. Tak terkecuali, inflamasi mata atau peradangan struktur okular (di antaranya uveitis, keratitis, dan skleritis) yang berisiko merusak retina.
Khusus uveitis, peradangan ini berpotensi menyerang semua kelompok umur, terutama pada kalangan usia produktif (20-60 tahun). Bahkan, uveitis menyumbang 25% angka kebutaan di negara berkembang. Infeksi virus dan bakteri menjadi faktor pemicu.
Di Indonesia sendiri, uveitis dipicu dua penyebab terbanyak, yakni penyakit infeksi sistemik (misalnya tuberkulosis dan toksoplasma) serta autoimun. Lebih mengkhawatirkan lagi, studi mendapati bahwa 48–70% kasus uveitis tergolong idiopatik alias tidak diketahui penyebab pastinya.
“Uveitis bukan sekadar peradangan mata biasa. Banyak penyandangnya yang minim mengalami gejala dini. Ketidaktahuan yang membuat pasien kerap terlambat memeriksakan matanya. Tanpa penanganan yang tepat, uveitis bisa mengarah pada gangguan mata yang lebih serius: katarak, glaukoma, kerusakan retina, hingga berujung pada kebutaan permanen. Deteksi dini dan penanganan segera menjadi solusi terefektif untuk menghindari konsekuensi lebih lanjut," terang Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clinics, Kamis (18/9).
Secara definisi, uveitis adalah peradangan di dalam mata, khususnya pada area uvea, yaitu lapisan tengah mata (meliputi iris, badan siliaris, dan koroid). Tiga tipe uveitis terdiri atas: 1) anterior - peradangan di bagian depan uvea, 2) intermediate - peradangan di bagian tengah uvea, 3) posterior - peradangan di bagian belakang uvea, dan 4) panuvetis - peradangan di bagian depan dan belakang uvea.
Gejala umum uveitis, antara lain mata merah (termasuk yang disertai rasa nyeri), penglihatan kabur atau berbayang (baik yang tidak/disertai mata merah), munculnya floaters (bintik atau bayangan kecil yang tampak melayang-layang di lapang pandang), dan photophobia - pandangan yang sensitif terhadap cahaya.
Kondisi mata merah dan pandangan yang sensitif terhadap cahaya serupa dengan gejala awal infeksi mata ringan seperti konjungtivitis (bersifat menular, biasanya disertai belek). Kemiripan ini yang membuat banyak penyandangnya abai.
Lebih-lebih gejala uveitis dapat timbul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat, dan muncul pada salah satu atau kedua mata. Pada penderita autoimun (misalnya lupus atau sindrom Sjogren), gejala uveitis sering terjadi pada kedua mata dengan interval waktu berbeda.
“Gejala-gejala tersebut merupakan alarm yang memerlukan perhatian medis segera. Sebab, kondisi uveitis dapat memburuk dengan cepat. Diagnosis yang akurat serta koordinasi antarprofesi medis sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan mencegah komplikasi. Penanganan uveitis memerlukan pendekatan menyeluruh guna mengendalikan peradangan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ada pun tata laksana atau pengobatan uveitis dimulai dengan pemeriksaan oftalmologi lengkap menggunakan slit-lamp, disertai pencitraan mata dan tes darah untuk mengidentifikasi akar penyebabnya. Selanjutnya, pemberian obat sesuai kondisi uveitis, antara lain:
● Tetes mata kortikosteroid sebagai pengobatan lini pertama untuk mengurangi peradangan dengan cepat.
● Dilating drops (cycloplegics) atau tetes mata untuk melebarkan pupil mata guna mengurangi nyeri akibat kejang iris dan mencegah pembentukan jaringan parut.
● Kortikosteroid (oral ataupun suntik) untuk mengatasi peradangan sistemik pada pada kasus yang lebih berat atau uveitis posterior.
● Imunosupresan, seperti methotrexate atau biologics, untuk kasus uveitis yang bersifat kronis atau disebabkan oleh penyakit autoimun.
● Antibiotik, antivirus, atau antijamur - jika teridentifikasi akibat infeksi.
