Konten Media Partner

Jasmine Athifa, Jadi Sarjana ITS di Usia 19 Tahun dengan IPK 3,53

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jasmine Athifa Azzahra diapit kedua orang tuanya saat berfoto seusai mengikuti prosesi Wisuda ke-124 ITS.
zoom-in-whitePerbesar
Jasmine Athifa Azzahra diapit kedua orang tuanya saat berfoto seusai mengikuti prosesi Wisuda ke-124 ITS.

Jasmine Athifa Azzahra baru saja menyelesaikan pendidikan S1 dari Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS. Hebatnya, Jasmine mendapatkan gelar sarjana tersebut di usia 19 tahun 9 bulan.

Gadis yang menyandang predikat sebagai wisudawan termuda di prosesi Wisuda ke-124 ITS ini, dengan IPK 3,53.

Jasmine bercerita, jika ia memulai pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) pada usia 3,5 tahun. Kemudian, di usia 5,5 tahun Jasmine sudah mulai menduduki bangku sekolah dasar (SD), dan menjadi siswa termuda dibandingkan teman-teman sekolah sebayanya saat itu.

Setelah lulus SD, Jasmine melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Malang melalui program akselerasi. Begitu pula ketika masuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Malang, ia juga mengambil program akselerasi dan lulus dalam kurun waktu dua tahun.

“Selanjutnya saya memilih lanjut ke Teknik Sistem dan Industri ITS dan lolos melalui jalur SBMPTN,” ucap Jasmine.

Jasmine mengaku, sengaja memilih Departemen Teknik Sistem dan Industri ITS, karena selama sekolah, ia memang tertarik untuk mempelajari ilmu sistem dan industri.

“Kemudian waktu melihat rangking tiap universitas buat TI (Teknik Sistem dan Industri) ITS ada di rangking atas, saya memutuskan untuk mengambil TI yang di ITS,” tambahnya.

Putri pasangan Hanieful Athhar dan Annisa Kesy Garside ini mengungkapkan, bahwa motivasi terbesar untuk melanjutkan pendidikan di usia muda adalah membahagiakan dan membanggakan orang tuanya. “Awalnya iseng daftar aksel (program akselesari), tapi orang tua ternyata sangat mendukung,” ungkapnya.

Menjadi mahasiswa termuda dibandingkan teman-teman kuliahnya, Jasmine mengaku banyak tantangan yang dirasakan. Selain ia harus lebih rajin dan berusaha keras untuk menyeimbangkan diri dengan teman-temannya, ia juga memiliki tantangan dalam bersosialisasi yakni perlu bersikap lebih dewasa dan mandiri.

Meski demikian, gadis yang tertarik dengan keilmuan optimasi, statistik, dan simulasi tak patah semangat untuk terus berusaha.

Bahkan, ia pernah bergabung menjadi Asisten Laboratorium Pemodelan Quantitatif dan Analisa Kebijakan Industri yang lebih dikenal dengan sebutan laboratorium QMIPA.

“Saya menjadi sekretaris selama satu semester, selain itu juga membantu dosen di kelas untuk membuat soal latihan, asistensi tugas besar, dan tutor di luar kelas,” jelasnya.

Selain aktif di bidang ilmu yang diminati, Jasmine juga aktif dalam beberapa organisasi keagamaan. Ia juga sempat menjadi staf di JMMI (Jamaah Masjid Manarul Ilmi ITS) dan organisasi Islam di TI.

Ke depan, Jasmine ingin meneruskan cita-citanya untuk kuliah ke jenjang master dan melanjutkan kerja di bidang yang diminatinya yakni keilmuan data science dengan fokusan optimasi industri.

"Tetap semangat menjalani kuliah daring. Semoga lancar terus kuliahnya dan tetap semangat belajar, semoga ilmunya bermanfaat,” tutupnya.