Konten Media Partner

Jemaah Haji Jember Alami Demensia, Ingin Beri Makan Sapi saat di Asrama Haji

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas haji sedang menenangkan jemaah haji asal Jember yang mengalami demensia. Foto: Humas Kemenag Jatim
zoom-in-whitePerbesar
Petugas haji sedang menenangkan jemaah haji asal Jember yang mengalami demensia. Foto: Humas Kemenag Jatim

Pada Sabtu (10/5) Asrama Haji Embarkasi Surabaya menerima kedatangan 5 kelompok terbang (kloter) yakni 31 hingga 35 dari Kabupaten Jember. Kedatangan 5 kloter ini diterima pada rentang waktu pukul 07.00 WIB pagi hingga pukul 19.30 WIB.

Ada dua jemaah haji asal Jember yang tergabung dalam kloter 32 tiba-tiba mengalami demensia di hari yang sama saat tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

Achmad Sadin (90), salah satu jemaah yang mengalami demensia, tiba-tiba berlari keluar asrama haji sambil berteriak-teriak ingin pulang ke daerah asalnya di Tempurejo, Jember. Sementara itu jemaah haji lainnya bernama Enjo Endin Parmo (70) mengaku ingin pulang ke Jenggawah, Jember, karena lupa memberi makan sapi peliharaannya. Ia ingin mencari rumput untuk pakan ternaknya.

Ketua Tim (Katim) Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, dr. Mochamad Gesta Robi Farmawan, membenarkan kejadian tersebut.

"Satu orang sekarang dirawat di RS Menur, satunya lagi masih kami tangani di klinik Asrama Haji," ungkap Gesta, Minggu (11/5).

Tim kesehatan akan terus memantau dan memastikan kestabilan kondisi dua jemaah lansia tersebut.

Gesta menjelaskan bahwa kondisi lingkungan yang baru dan adaptasi yang sulit dapat memicu gangguan perilaku pada jemaah haji, terutama lansia.

"Kondisi itu biasanya muncul karena kecemasan yang tidak bisa dikendalikan, lalu jemaah mencari-cari alasan agar bisa pulang," tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa meskipun upaya pencegahan sudah dilakukan, kasus seperti ini masih sering terjadi. Oleh karena itu, Gesta menekankan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap jemaah lanjut usia. Ia juga menegaskan bahwa jemaah dengan kondisi demensia diperbolehkan untuk dibadalkan hajinya.

"Boleh saja hajinya dibadalkan ke anaknya, karena kasihan juga kalau dipaksakan berangkat," ujarnya.

Gesta berharap adanya regulasi khusus untuk penanganan jemaah dengan gangguan daya ingat, demi menjaga aspek kemanusiaan.