Konten Media Partner

Kabar Terbaru Pak Eko, Guru Honorer yang Berhenti Kerja Karena Pendarahan Otak

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eko Sumantoyo (berbaring) ditemani dua anaknya. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Eko Sumantoyo (berbaring) ditemani dua anaknya. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra

Nama Eko Sumantoyo mendadak ramai dibicarakan di jagad maya. Sebabnya, pria yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah SD negeri Surabaya ini dikabarkan diberhentikan karena mengalami sakit pembekuan darah di otak.

Saat Basra mengonfirmasi kabar pilu tersebut pada sang istri, Siti Syamsiah, ibu dari lima anak ini menjelaskan berita tersebut tidak benar. Menurut Siti, Eko sengaja mengundurkan diri karena kesehatannya mulai menurun setelah menjalani operasi pada November 2019.

"Berita yang beredar itu tidak benar, salah itu. Bapak mengundurkan diri dan digantikan oleh Rafi (anak pertama)," kata Siti yang ditemui Basra, Kamis (13/3).

Sejak sang ayah mulai sakit pada pertengahan 2018, putra pertama Eko, Ancola Rafiud (21) atau Rafi, memutuskan untuk cuti kuliah dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Urwatul Wutsqo Jombang. Saat itu Rafi masih semester 3.

Suasana rumah Eko Sumantoyo di Manyar Sabrangan III No. 46 Surabaya.

Untuk menopang pendapatan keluarga, Rafi pun menjadi driver ojek online (ojol) di Surabaya. Pendapatannya tak tentu, rata-rata Rafi bisa membawa pulang Rp 70 ribu.

Beruntung, sejak Februari 2020 Rafi mendapat tawaran menjadi tenaga outsorcing untuk menjaga perpustakaan di SD tempat ayahnya mengabdi selama ini, SDN Kertajaya I Surabaya. Dengan pekerjaan tersebut, Rafi kini mendapat gaji tetap setara UMR.

Sejak menjadi penjaga perpustakaan, Rafi hanya sesekali mengambil order ojol. Kini anak kedua Eko lah yang masih duduk di SMA kelas 3 meneruskan menjadi pengemudi ojol untuk membantu ekonomi keluarga.

Tampak depan rumah Eko Sumantoyo.

Ketika Basra berkunjung ke rumah Eko di Jalan Manyar Sabrangan III No 46 Surabaya pada Kamis (12/3), terlihat sosok Eko tengah duduk di atas tempat tidur bersama kedua anaknya.

Eko tinggal bersama istri dan kelima anaknya, Ancola Rafiud (21), Diki Egar (18), Fitriatul Hasanah (14), Naufal Amar (12), dan Kairin (5).

Tahun ini, tiga dari anak Eko lainnya akan menjalani ujian nasional. Diki sekolah SMA kelas 3, Fitriatul SMP kelas 3, Naufal SD kelas 6, dan Kairin TK A.

Tak ada kata yang diucapkan Eko. Eko lebih banyak berbaring karena memang Eko masih menjalani terapi wicara dan berjalan kembali.

"Alhamdulillah, kemarin, Rabu (11/3) sore bapak sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit," ucap Siti yang masih bekerja sebagai pengupas bawang di Pasar Manyar.

Sebelumnya Eko dirawat di rumah sakit sejak Sabtu (7/3) lantaran mengeluh pusing.

Siti bercerita, kondisi sang suami mulai berangsur membaik. Bahkan saat ini Eko sudah bisa duduk dan berbicara sesekali. "Kalau jalan belum bisa jadi harus dibopong. Seminggu dua kali juga harus direhabilitasi agar bisa berbicara lebih lancar dan jalan kembali," jelasnya.

embed from external kumparan

Berita Eko yang sempat viral di kalangan komunitas guru, Pemkot Surabaya, dan anggota dewan ini memantik kepedulian banyak pihak. Menurut Siti, dirinya bersyukur karena masih ada orang-orang yang peduli dengan kondisi sang suami.

Bahkan biaya rumah sakit dan sekolah anak-anak Eko juga dibantu Pemerintah Kota Surabaya dan beberapa anggota dewan yang datang menjenguk Eko.

Sehari-hari Siti bekerja jadi pengupas bawang di Pasar Manyar. Upahnya tak seberapa, sekitar Rp 50 ribu. Untuk tambahan, dia membuka warung di rumah yang menjual alat tulis dan jajanan.

Eko tinggal di rumah seluas 10x6 meter. Kondisi rumah tersebut memang memprihatinkan. Plafon rumahnya rusak, bolong, dan ditutup sementara menggunakan lembaran banner bekas yang tetap bisa bocor saat hujan.

Jangankan terpikir untuk memperbaiki rumah, Rafi kini hanya ingin ayahnya bisa sehat seperti sedia kala. "Kalau ada rezeki inginnya ya kuliah lagi. Tapi untuk sekarang yang penting bisa sembuh dulu," kata Rafi.