Pencarian populer

Karena Cak Mus Permainan Tradisional Tak Pupus

Mustofa Mus atau Cak Mus, penggagas Kampoeng Dolanan. Foto : Windy Goestiana/Basra

Berbeda dengan permainan masa kini yang lebih banyak dimainkan sendiri, permainan tradisional jauh lebih seru karena dimainkan berkelompok dan mengandalkan kerja sama. Bahkan ada juga permainan tradisional yang punya pesan kehidupan. Misalnya egrang batok kelapa yang menggunakan batok kelapa yang dibelah dua dan diberi tali di bagian tengahnya.

Siapa yang menyangka, kalau batok kelapa itu diibaratkan setengah permukaan Bumi, lalu kaki si pemain yang diletakkan di atas batok melambangkan keberadaan manusia yang menjejakkan kaki di bumi. Apakah kaki akan bergerak ke depan (menuju masa depan) ataukah ke belakang (mengalami kemunduran). Itu semua tergantung pada yang di 'atas' yang bermakna usaha si pemain dan takdir Tuhan.

"Permainan tradisional itu lebih dari sekadar bermain. Bahkan saat menjemput teman untuk bermain, kita akan izin dulu ke orang tua teman kita. Supaya diizinkan kita harus belajar bicara sopan ke orang yang lebih tua," ucap Mustofa Sam atau Cak Mus, penggagas kegiatan Kampoeng Dolanan di Surabaya, kepada Basra pada Rabu (6/5).

"Kita juga harus mengembalikan teman kita dalam keadaan baik-baik seperti saat kita ajak dia," sambungnya.

Anak-anak Kedung Asem Gang 10 Surabaya sedang dikunjungi Kampoeng Dolanan (7/5). Permainan yang dimainkan ini bernama Balogo dari Kalimantan. Dok. Kampoeng Dolanan

Cak Mus memang ingin merawat eksistensi permainan tradisional agar tak dilupakan zaman.

"Awalnya Kampoeng Dolanan itu kegiatan karang taruna kampung saya. Saya punya ide untuk mengisi kegiatan anak-anak di kampung dengan bermain permainan masa kecil saya. Ternyata dari sana kegiatannya jadi rutin," kata Cak Mus yang tinggal di RT 4 RW 2 Simokerto, Surabaya, Jawa Timur.

Video

Seiring berjalannya waktu, Kampoeng Dolanan semakin sering dibicarakan. Undangan untuk mengisi kegiatan pun satu per satu berdatangan. Namun Cak Mus tak pernah memungut biaya untuk mengisi kegiatan itu.

"Kami tidak memungut biaya apapun. Cukup sampaikan kapan dan di mana lokasinya, kami akan datang membawa gasing Jogja, dakon, katapel, egrang, dan masih banyak lagi," kata pria kelahiran 2 Mei 1991 itu.

Menurut statistik di laman www.kampoengdolanan.or.id sudah ada 41.231 orang yang sudah ikut bermain dan 512 roadshow yang dilaksanakan Kampoeng Dolanan terhitung hingga 16 Mei 2019.

Buku karya Cak Mus yang bercerita tentang perjalanan Kampoeng Dolanan dan cerita menarik para relawan.

Meski tidak pernah memungut biaya ketika diundang, Kampoeng Dolanan ternyata bisa membiayai kegiatannya melalui Dolip Store yaitu toko yang menjual berbagai permainan, seperti yoyo dan Mino Card.

"Mino Card itu buatan saya sendiri. Jadi semacam kartu domino untuk belajar matematika," kata Cak Mus.

Sedangkan permainan yoyo dibeli langsung dari perajin untuk dipakai dalam kelas-kelas workshop Kampoeng Dolanan. "Jadi para pedagang konvensional sejahtera, komunitas juga bisa mandiri secara ekonomi," ucap Cak Mus yang merupakan alumnus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya itu.

Selain terus melestarikan permainan tradisional, Cak Mus mengungkapkan Kampoeng Dolanan juga memberdayakan ibu rumah tangga di Kampung Kenjeran IV-C, Kecamatan Simokerto, melalui The Dakon's Catering.

Aktivitas di The Dakon's Catering yang memberdayakan ibu-ibu di Kampung Kenjeran IV-C Surabaya. Foto : Dok. Kampoeng Dolanan

Bisnis katering ini digagas Cak Mus mulanya untuk memberdayakan dua orang ibu yang punya masalah keuangan. "Ibu yang satu jadi tulang punggung keluarga untuk dua anaknya yang masih kecil dan satu ibu lagi yang baru saja di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari pekerjaannya tahun 2017," kata Cak Mus.

The Dakon's Catering yang dirintis sejak 1 Desember 2017 itu kini sudah bisa menerima pesanan 300-400 porsi setiap hari.

Cak Mus (berompi merah) bersama relawan Kampoeng Dolanan saat menggelar acara Marhaban Yaa Dolanan di Kedung Asem Gang 10 Surabaya (7/5).

Cak Mus menuturkan perjalanan membesarkan Kampoeng Dolanan ini bukan jalan yang mudah. Dia menemui sejumlah tantangan, terutama relawan yang mudah datang dan pergi.

"Relawan kami masih muda-muda usianya. Banyak di antara mereka yang datang sekali, bulan depan tidak lagi. Mereka ikut kegiatan ini untuk knowledge mereka, belum sampai ke tahap ingin terus memberi dampak ke masyarakat. Ya enggak apa-apa," kata Cak Mus disambung tawa.

Anak-anak Kedung Asem Gang 10 diajak bermain Cublek-Cublek Suweng. Foto : Dok. Kampoeng Dolanan

Dia mengungkapkan ingin anak-anak Indonesia bisa bersenang-senang dengan permainan tradisional sampai kapanpun. Sehingga permainan tradisional dapat berjaya di negeri sendiri meski berbagai macam permainan modern tak dapat dibendung. Bagi Cak Mus, permainan tradisional ibarat warisan kebaikan yang harus terus disampaikan pada setiap generasi.

"Kampoeng Dolanan tidak memusuhi permainan modern. Kami hanya ingin anak-anak tidak terus-menerus menatap layar ponsel. Karena tatap muka dengan teman-teman juga penting. Anak-anak yang sejak kecil kurang bersosialisasi dengan masyarakat cenderung kurang percaya diri saat dewasa," pungkas Cak Mus.

(Reporter: Windy Goestiana)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31