Konten Media Partner

Kasus Hilangnya Ara, Eri Cahyadi Tekankan Pentingnya Kekuatan Keluarga

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eri Cahyadi bersama istri saat mengunjungi Ara, Sabtu (27/3) kemarin. Foto: Humas Pemkot Surabaya
zoom-in-whitePerbesar
Eri Cahyadi bersama istri saat mengunjungi Ara, Sabtu (27/3) kemarin. Foto: Humas Pemkot Surabaya

Berhasil ditemukannya Nesa Alana Karaisa atau yang kerap disapa Ara, bocah tujuh tahun asal Karanggayam Surabaya menyita perhatian banyak pihak, tak terkecuali Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Bahkan Eri cukup menyayangkan hilangnya Ara karena dilatar belakangani konflik keluarga.

“Karena konflik internal keluarga ini akhirnya menyebabkan Ara harus berpisah sementara dengan ayah dan ibunya,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Basra, (27/3).

Apalagi, kata Eri, Ara juga mengaku selama ini tidak pernah pergi bersama orang yang tak dikenalnya. Bocah tersebut selalu pamit dengan orang tuanya ketika akan pergi bermain. Namun, karena orang yang mengajaknya dikenal, sehingga Ara mau mengikutinya.

“Setelah saya tanyakan langsung, Ara kalau pergi dengan orang lain? (Jawabnya) tidak. Ara kalau pergi dengan orang lain pasti izin dulu dengan ayah dan ibunya. Tapi, karena yang mengajak adalah keluarga, dan adik Ara ini kenal, maka (dia) ikut,” ungkap Eri.

Berkaca dari pengalaman ini, Eri berharap kepada seluruh warga Surabaya agar ke depan dapat lebih berhati-hati menjaga buah hatinya.

“Bagaimanapun kekuatan pemerintahan, kekuatan kepolisian itu tidak akan ada artinya ketika kekuatan keluarga tidak menjadi kekuatan utama. Karena kekuatan utama untuk menjaga keluarga menjadi aman adalah di keluarga masing-masing,” ujarnya.

Eri juga menyatakan Pemkot Surabaya memberikan pendampingan kepada Ara dan orang tuanya. Mereka untuk sementara dalam pengawasan pemkot hingga kondisi psikisnya stabil dan pulih kembali.

“Ketika saya ajak ngobrol, adik Ara ini menyampaikannya dengan lugas. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa khawatir, tidak ada rasa trauma. Tapi kita tetap melakukan pendampingan. Ini menjadi pembelajaran kita ke depan,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Johnny Eddizon Isir mengungkapkan sejak menerima informasi adanya anak hilang, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Setelah dilakukan pendalaman, ternyata peristiwa ini ada kaitannya dengan masalah keluarga.

“Dari situ kemudian ada titik pijak proses penelusuran, kemudian diketahui adik Ara berada di salah satu wilayah di Pasuruan, kemudian kita bawa ke sini (Surabaya) dan dipertemukan pada ayah ibundanya,” kata Eddizon.

Secara prinsip, Kapolres menyebut ada permasalahan keluarga di balik hilangnya Ara. Setidaknya ada dua pelaku yang diamankan dalam kasus ini dengan inisial OAH dan AH, yang tak lain adalah budhe dari pihak ibunda Ara beserta suami sirinya.

“Ada dua yang kita tangkap. Karena kita ketahui, meski ini hanya permasalahan keluarga, karena sudah membawa anak tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari ayah bundanya,” katanya.

Dalam kasus ini, kedua pelaku terancam Pasal 83 Jo 76F Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun.

Baik Eddizon maupun Eri menegaskan Surabaya tetap menjadi kota yang aman. Sebab, peristiwa ini bukan disebabkan karena faktor lain, melainkan masalah konflik internal keluarga.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ara berhasil ditemukan pada Sabtu (27/3) dini hari di Pasuruan setelah hilang sejak Selasa (23/3) pagi. Dari penelusuran polisi, diketahui jika Ara dibawa pergi budhenya sendiri.

Ada yang terlihat berbeda saat Ara berhasil ditemukan, yakni penampilan Ara dengan rambut pendeknya. Usut punya usut ternyata sang budhe sempat mengajak Ara potong rambut sebelum dibawa ke Pasuruan.