Kecewa Petugas KPPS di Surabaya, Kerja Hingga Subuh Tapi Pemilu Dinilai Curang

Konten Media Partner
21 Februari 2024 7:10 WIB
·
waktu baca 3 menit
Petugas KPPS di salah satu TPS di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Petugas KPPS di salah satu TPS di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Rahmad Wahyu, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Surabaya tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya saat banyak yang menilai bahwa gelaran Pemilu 2024 banyak diwarnai kecurangan.
ADVERTISEMENT
Rahmad yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 37 saat hari pencoblosan, patut kecewa. Pasalnya, tugas sebagai anggota KPPS cukup berat. Bahkan Rahmad sempat jatuh sakit usai menyelesaikan proses penghitungan suara.
"Sempat jatuh sakit, badan terasa ngilu, batuk, pilek, dan demam. Mungkin karena kurang istirahat ya. Alhamdulillah sekarang sudah baikan," ujarnya saat dihubungi Basra, (20/2).
Rahmad lantas mengungkapkan bagaimana tugas yang harus dijalankannya sebagai petugas KPPS. H-1 pencoblosan atau tanggal 13 Februari, Rahmad dan timnya harus menyiapkan TPS. Persiapan dilakukan mulai dari memasang tenda hingga menyiapkan kursi bagi warga yang datang menggunakan hak pilihnya.
"Persiapan kita lakukan mulai jam 2 siang sampai malam. Keesokan harinya kita mulai ngangkuti surat suara dan bilik suara, dari jam 6 pagi ya karena pencoblosan dilakukan mulai jam 7 pagi," terangnya.
ADVERTISEMENT
Pada pelaksanaan pencoblosan itulah menjadi hari yang cukup melelahkan bagi Rahmad dan petugas KPPS lainnya. Pasalnya, usai pencoblosan dilakukan proses penghitungan suara. Untuk proses penghitungan suara di TPS 37 tempat Rahmad bertugas baru selesai hampir tengah malam.
"Sekitar jam setengah sebelas malam tuntas penghitungan suaranya. Setelah itu kita upload ke Sirekap dan ini prosesnya juga tidak sebentar. Kita selesai upload data di Sirekap itu jam 3 pagi hampir mau subuh," tutur Rahmad.
Saat pekerjaannya di TPS 37 tuntas, bukan berarti Rahmad bisa duduk santai. Rahmad masih harus membantu proses penghitungan suara di TPS lain yang belum selesai.
"Bantu di TPS lain mulai jam 9 pagi sampai siang sekitar jam 12 selesainya," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Proses penghitungan suara yang cukup melelahkan hingga mengupload ke Sirekap, sangat menguras tenaga Rahmad hingga keesokan harinya ia pun jatuh sakit.
Kini di tengah proses penghitungan suara oleh KPU yang masih belum tuntas, muncul tudingan dari sejumlah pihak jika pelaksanaan pemilu banyak diwarnai kecurangan. Rahmad pun merasa kecewa.
"Apa ya, kita sudah kerja sampai subuh ngitung suara, kita sudah berusaha untuk amanah dalam bertugas kok masih ada yang bilang curang. Kita ngitung (suara) sudah amanah," tandasnya.
Rahmad berharap sejumlah pihak dapat bersabar menanti proses penghitungan suara yang saat ini masih berlangsung.
"Di tunggu sampai selesai lah kalau tidak puas (hasilnya) baru menggunakan jalur yang ada (untuk menggugat)," tegasnya.
Terkait penerapan Sirekap, Rahmad berharap jika memang alat bantu tersebut belum siap diterapkan sebaiknya ditiadakan dan dilakukan penghitungan manual saja.
ADVERTISEMENT
"Kemarin itu kita upload data ke Sirekap itu cukup lama dan rumit, menambah beban kerja. Bayangin segitu banyaknya TPS harus upload data ke Sirekap dalam waktu bersamaan. Ada baiknya hasil penghitungan suara di TPS disetor saja ke Kelurahan atau Kecamatan untuk diteruskan ke pusat. Jadi kitanya juga nggak terlalu capek nunggu untuk upload ke Sirekap," simpulnya.