Kenali Microsleep, Tidur 4 Detik yang Sebabkan Kecelakaan Fatal

Kecelakaan tragis yang menewaskan artis Vanessa Angel dan sang suami di tol Jombang, Jawa Timur, Kamis (4/11) lalu, kembali mencuatkan istilah microsleep. Sang sopir artis diduga mengalami microsleep.
Menurut Kepala Bidang Keselamatan dan Berlalu Lintas Angkutan Darat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Provinsi Jatim I Komang Fery, microsleep merupakan akhir dari kelelahan yang ditahan.
"Microsleep merupakan suatu kondisi seseorang mengalami keadaan tidak sadar (tertidur) selama beberapa detik akibat kelelahan yang fatal dan dipaksakan. Apabila microsleep terjadi pada saat berkendara akan sangat berbahaya," ujarnya kepada Basra, Senin (8/11).
Lebih lanjut Komang mengungkapkan ada beberapa ciri yang dapat dikenali dari seseorang yang berada dalam kondisi microsleep. Di antaranya gerakannya yang pelan, respon yang lambat, mata yang sering kedip-kedip, detak jantung turun, sering mengucek mata, hingga posisi duduk yang berubah.
"Microsleep biasanya terjadi sekitar dua hingga tiga menit. Kalau kepalanya sudah terkantuk baru dia akan sadar (terbangun)," imbuhnya.
Dikatakan Komang, kondisi microsleep sering dialami pengendara luar kota. Biasanya, lanjut Komang, untuk menyiasati kondisi microsleep para sopir itu akan mengonsumsi minuman/suplemen penambah semangat.
Padahal, kata Komang, mengonsumsi minuman/suplemen penambah semangat itu hanya bersifat penunda kelelahan.
"Rasa lelah driver tidak akan hilang hanya dengan minum minuman atau suplemen penambah semangat," tukasnya.
Komang menegaskan microsleep yang dialami pengendara akan berakibat fatal. Misalnya ketika ada pengendara yang memacu kendaraannya dengan kecepatan 100 km/jam, tiba-tiba mengalami microsleep sekitar 4 detik. Akibatnya, kendaraan yang dikendarai pun tiba-tiba melaju tanpa kendali sejauh 200 meter dan tentu saja kondisi itu dapat memicu terjadinya kecelakaan yang fatal.
"Apalagi begitu si pengendara tersadar karena kaget maka yang dia injak secara reflek adalah pedal gas bukannya rem. Ini tentu saja akibatnya bisa fatal," ujarnya.
Oleh sebab itu, lanjut Komang, di setiap 50 km jalan tol terdapat rest area. Ini agar para pengendara dengan jarak tempuh jauh dapat memanfaatkannya untuk beristirahat.
Komang lantas memberikan sejumlah tips berkendara untuk menghindari terjadinya microsleep.
1. Pastikan tubuh dalam kondisi fit dan prima. Kondisi tidak fit akan membuat tidak konsentrasi dalam berkendara.
2. Siapkan kendaraan semaksimal mungkin. Cek kondisinya seperti ban, rem. Jika kondisi kendaraan sudah dipastikan aman, maka pengendara akan fokus ketika mengemudi. Artinya dia tak lagi memiliki beban pikiran terkait kondisi kendaraan.
3. Buatlah road plan perjalanan terlebih dahulu. Dengan adanya road plan perjalanan membuat pengendara lebih terencana akan melewati rute perjalanan. Pengendara juga bisa menentukan kapan saatnya dia harus beristirahat.
4. Mengetahui kondisi jalan. Saat berkendara di jalan tol maka kecepatan yang digunakan berkisar antara 60 hingga 100 km/jam. Kisaran angka ini nantinya dapat menimalisir resiko ketika terjadi kecelakaan.
"Berkendara di jalan tol itu sejatinya jauh lebih aman dibanding jalan umum. Jalan tol biasanya kondisi jalannya lebih baik dibanding jalan umum yang terkadang banyak lubang. Hanya saja pengendara sering merasa bosan kalau melintas di jalan tol. Kondisi jalan tol kan monoton, jadilah mereka kerap memacu kendaraannya dengan kecepatan di atas yang seharusnya. Dan ini sangat berbahaya, apalagi kalau dia mengalami microsleep," pungkasnya.
