Konten Media Partner

Kick Off Hari Santri di Unusa, Prof Nuh Ingatkan Ponpes Perlu Lakukan Ini

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA, di acara Kick Off Hari Santri 2025 yang digelar di Unusa. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA, di acara Kick Off Hari Santri 2025 yang digelar di Unusa. Foto: Masruroh/Basra

Peradaban mulia berpusat pada pembangunan human capital atau sumber daya manusia yang unggul. Pondok pesantren (ponpes) dan dunia pendidikan merupakan dua unsur utama dalam pembentukan peradaban tersebut. Hal ini diungkapkan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) sekaligus Rais Syuriyah PBNU, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA., disela kegiatan Kick Off Hari Santri 2025 yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Minggu (19/10).

Kick Off Hari Santri 2025 ini diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

“Peradaban mulia itu tertuju pada human capital. Dan bagian dari human capital itu adalah pondok pesantren dan dunia pendidikan,” ujar Prof. Nuh.

Lebih lanjut, Prof Nuh menceritakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sejarah panjang dalam mengelola pesantren dengan baik. Namun, menurutnya, agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman, kalangan pesantren juga perlu memperkuat kemajuan berpikir melalui jalur pendidikan formal. Ia menegaskan, semangat inilah yang melatarbelakangi pendirian Unusa 12 tahun silam.

“NU sangat bagus dalam pengelolaan pondok pesantren, namun untuk mengikuti perkembangan zaman perlu juga dengan kemajuan berpikir. Itu ada dalam bidang pendidikan, dan karena itu pula Unusa didirikan,” ungkapnya.

Ditambahkan, berdirinya Unusa juga menjadi inspirasi bagi munculnya berbagai universitas berbasis NU di daerah lain, sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan dan peradaban bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, dalam kesempatan yang sama mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan dan bekerja bersama mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

“Mari kita berkonsolidasi, bersinergi, dan berkolaborasi menuju bangsa yang maju dan beradab,” seru Yahya.

Ia juga menekankan bahwa Hari Santri Nasional juga berkaitan dengan resolusi jihad yang diterbitkan pada 22 Oktober 1945. Maka dari itu peringatan hari santri ini menjadi momen untuk meneguhkan kembali semangat mengawal kemerdekaan. Bahwa cita-cita Indonesia yang merdeka ini harus dikawal hingga tercapai.

“Cita-cita itu bukan hanya untuk bangsa Indonesia atau kumpulan orang yang tinggal di Nusantara, namun sesungguhnya cita-cita itu merupakan miliki seluruh peradaban bangsa. Seperti yang ditegaskan pada Pembukaan UUD Republik Indonesia 1945,” terangnya.

Semangat pada Hari Santri Nasional diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebangkitan santri, tetapi juga momentum penguatan kontribusi pesantren dan perguruan tinggi NU dalam membangun peradaban Indonesia yang mulia dan berkelanjutan.

Puncak acara Hari Santri 2025 akan diselenggarakan pada 25 Oktober 2025 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, dengan acara bertajuk "Malam Bakti Santri untuk Negeri".