kumparan
16 November 2019 14:43

Kiprah Perguruan Silat Sawunggaling Cetak Jawara Silat Surabaya

WhatsApp Image 2019-11-16 at 1.56.47 PM (1).jpeg
Perguruan silat Sawunggaling. Foto : Masruroh/Basra
Perguruan Silat Sawunggaling telah berdiri sejak tahun 1979. Meski sebenarnya perguruan silat ini pusatnya di Jakarta, tapi khusus untuk anak-anak dilatih di Surabaya.
ADVERTISEMENT
Menurut Supadi, Ketua Lembaga Pelatih Jatim dan Nasional Perguruan Silat Sawunggaling, perguruan silat Sawunggaling sehari-hari berlatih di lapangan Balai RT 6 RW 6 Sambiarum Lor Surabaya.
Dalam sehari ada dua sesi latihan yang dilakukan murid-murid Sawunggaling, yakni sore dan malam hari. Intensitas latihan akan ditambah pada pagi harinya jika musim libur sekolah tiba.
Di Surabaya, Perguruan Sawunggaling memiliki murid sekitar 90 anak berusia 6 tahun hingga remaja. Mereka terbagi dalam dua kelompok, atlet dan umum.
WhatsApp Image 2019-11-16 at 1.56.45 PM.jpeg
"Kalau yang atlet latihannya setiap hari, karena anak-anak dipersiapkan untuk ikut kompetisi. Sedangkan bagi kelompok umum hanya berlatih Senin dan Kamis," imbuh pria yang telah mengajar silat selama 38 tahun ini.
Sebagai perguruan silat yang telah berusia puluhan tahun, Sawunggaling telah mencetak sederet jawara. Salah satunya adalah Sarah Tria Monita, peraih medali emas Asian Games 2018 cabang pencak silat.
ADVERTISEMENT
Diakui Supadi, momen Asian Games 2018 menjadi ajang kebangkitan bagi pencak silat. Sebelumnya pencak silat memang kurang dilirik anak muda. Namun cerita menjadi lain, saat Indonesia panen medali di ajang Asian Games 2018 dari cabang pencak silat.
"Sekarang banyak anak-anak muda yang tertarik silat. Apalagi sekarang pemerintah sedang berupaya membawa cabang pencak silat ke olimpiade, pastinya pencak silat bisa lebih mendunia nantinya," kata Supadi.
WhatsApp Image 2019-11-16 at 1.57.11 PM.jpeg
Supadi berharap olahraga yang tumbuh dari budaya Indonesia ini bisa terus menghasilkan bibit-bibit potensial. Meski bagi Supadi sendiri bukan hal mudah mengajari anak-anak usia dini olahraga pencak silat.
"Kita tahu sendiri lah, karakter anak-anak itu seperti apa? Kalau nggak sesuai maunya ya mereka enggak akan mau melakukan. Jadi kita harus sabar, pelan-pelan ngajarinya," tukas Supadi.
WhatsApp Image 2019-11-16 at 1.56.47 PM.jpeg
Sementara itu di tengah maraknya tawuran di kalangan pelajar turut memantik rasa prihatin Supadi. Agar anak didiknya tak terlibat dalam tawuran atau sok-sokan menggunakan jurus silatnya, Supadi punya kiat tersendiri.
ADVERTISEMENT
"Kita sering ikutkan anak-anak kompetisi. Jadi mereka akan sibuk dan fokus latihan. Di rumah tinggal istirahat, mereka enggak punya pikiran yang aneh-aneh, mau tawuran ini itu lah, enggak akan bisa," tegasnya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan