Kirab Silat di Hari Pernikahan: Merawat Cinta, Melestarikan Budaya

Sudahkah kamu membayangkan akan seperti apa konsep pernikahanmu kelak?
Jika ingin tampak beda dari yang lain, mungkin konsep yang diusung bisa meniru prosesi pernikahan pasangan asal Surabaya, Rafidh Rabbani dan Ayu Widya Wulandari. Diketahui, mempelai pria, Rafidh, berprofesi sebagai pesilat.
Rafidh dan Ayu menggelar Kirab Silat di acara pesta resepsi pernikahan mereka, Minggu (21/7). Memang, seyogyanya pernikahan adalah seremoni pengiring kisah cinta menuju fase selanjutnya. Namun, Rafidh dan Ayu juga menjadikan momen pernikahan mereka sebagai ajang pelestarian silat, seni bela diri tradisional Indonesia.
Dalam balutan busana pengantin bernuansa modern berwarna blue royal yang mewah, Kirab Silat menggantikan tarian dalam prosesi cucuk lampah. Dalam tradisi Jawa, cucuk lampah ibarat pembuka tahapan baru dalam hidup. Kirab Silat itu digelar dengan disaksikan para undangan yang menunggu pengantin naik menuju ke pelaminan.
Bertempat di Gedung Wanita Chandra Kirana, Jalan Kalibokor Surabaya, aksi Kirab Silat diawali dengan pertunjukan Silat Kipas yang dibawakan lima orang. Sesuai namanya, satu pesilat pria dan empat pesilat wanita melakukan gerakan silat dengan membawa kipas yang dimainkan secara indah. Ternyata, gerakan silat itu memiliki pesan optimisme melihat masa depan.
Usai aksi Silat Kipas, perjalanan Rafidh-Ayu menuju ke pelaminan melalui Tapel Kuda. Nah, saat inilah berjajar 10 pesilat berhadapan membentuk barisan.
Menggandeng Ayu, Rafidh melalui jajaran pesilat ini seperti layaknya prosesi 'Pedang Pora' dalam tradisi militer. Namun bedanya, Rafidh-Ayu melintas di jajaran para pesilat tangguh sebagai pagar betis.
Rafidh bahkan ikut tampil sendirian menunjukkan beberapa gerakan silat yang dikuasainya. Saat itulah, Rafidh yang tampak gagah dalam balutan jas, terlihat berwibawa sebagai sosok pemimpin rumah tangga dengan gerakan tunggal silat yang tangguh.
Filosofi dari aksi Rafidh itu adalah untuk menguji ketahanan Rafidh sebagai pemimpin rumah tangga. Untuk membuktikan bagaimana upaya pengantin pria menghadapi hambatan dalam rumah tangganya nanti. Hambatan itu disimbolkan dengan sosok pesilat yang menantangnya.
Tampillah dua pasang pesilat ganda atau empat orang yang beraksi dengan tangan kosong. Mereka bergulat saling beradu menjadi simbol hal-hal yang bakal terjadi dalam rumah tangga. Inilah tantangan rumah tangga yang harus diselesaikan Rafidh.
Selain aksi ganda empat pesilat itu, ada bentuk hambatan lain, yaitu sepasang pesilat dengan menggunakan senjata tajam celurit. Keduanya berduel saling menunjukkan kekuatan di depan Rafidh.
Semua aksi Kirab Silat tersebut diiringi gamelan Jawa secara live. Sama seperti yang menyuguhkan aksi, para penabuh gamelan itu juga para pesilat.
“Ada 10 orang yang khusus menabuh gamelan. Total ada 27 orang saya latih untuk Kirab Silat ini sejak tiga bulan yang lalu khusus untuk resepsi pernikahan Rafidh-Ayu,” kata pelatih silat IPSI (Ikatan Pelatih Silat Indonesia) Kota Surabaya, Achmad Jamaluddin, kepada Basra di sela acara.
Momen ini terasa unik karena baru kali ini digelar oleh para pesilat untuk kepentingan pernikahan. Sebelumnya, biasa dikemas untuk penyambutan tamu negara dengan kurang lebih urut-urutan aksi yang sama. Bedanya, mereka yang disambut tidak ikut terlibat dalam aksi, melainkan para tamu agung tinggal menyaksikan di tengah-tengah aksi dan di akhir aksi akan dikalungi bunga selamat datang.
Jamaluddin sendiri sangat bangga karena terbukti pelestarian silat sangat mungkin dilakukan dalam bentuk acara apa pun. Ia merasa jika ada upaya-upaya aktif masyarakat, maka peristiwa-peristiwa kebudayaan dapat disosialisasikan dengan lebih baik di tengah-tengah masyarakat.
(Reporter: Masruroh/Editor: Windy Goestiana)
