Konten Media Partner

Kisah Bocah SD di Surabaya Jadi Anggota Gangster dan Mencuri Motor Warga

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak perempuan korban kekerasan fisik. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak perempuan korban kekerasan fisik. Foto: Pixabay

Usianya masih 12 tahun, namun kerasnya hidup di jalanan Kota Surabaya sudah dilaluinya. Bahkan bocah perempuan ini pernah menjadi bagian dari kelompok gangster.

Kisah T menjadi bagian dari kelompok gangster bermula saat perkenalan dirinya dengan seorang pemuda jalanan bernama R (18 tahun). Perkenalan mereka terjadi di pusat kota Gresik saat T sedang mengamen.

"Kenal R di Gresik pas lagi ngamen sama A (14 tahun)," ujar T saat ditemui Basra di Yayasan Star Arutala Surabaya, Rabu (7/12) malam.

Kepada T, R mengaku berasal dari Indramayu. R lantas tinggal bersama T di sebuah pos yang selama ini menjadi tempat tinggal para anak jalanan di kawasan Surabaya Utara.

Sejak tinggal bersama R, T mengaku kerap mengalami kekerasan fisik. Pukulan kerap diterima T saat menolak perintah dari R.

"Disuruh beli rokok sama R. Pernah saya nolak dan langsung dipukul punggung sama sama R," ungkap bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 6 ini.

Puncaknya R meminta T untuk mengambil motor di kawasan Pakis. Awalnya T menolak karena tak mengenal pemilik motor yang dimaksud R. Namun T akhirnya menuruti keinginan R dan mengambil motor yang terparkir di depan rumah warga.

"Kalau nggak mau ambil motor itu, saya sama A mau dibunuh R. Karena takut ya saya sama A ambil motor itu. Kata R itu motor saudaranya," kisah T.

Melihat T dan A yang berhasil mengambil motor tersebut membuat R kembali meminta keduanya mengambil motor di lokasi yang berbeda, yakni di kawasan Wonokitri. Namun nahas bagi T dan A, keduanya tepergok warga saat menuntun motor.

T dan A lantas digiring ke Polsek Sawahan. Sedangkan R tak diketahui rimbanya.

T mengaku hidup di jalanan karena diusir sang ayah. Kesal terhadap perilaku T yang sering membolos sekolah membuat sang ayah mengusirnya dari rumah. Namun T tak mengungkapkan alasannya kerap membolos sekolah.

"Ya nggak papa bolos," ujarnya singkat.

Sejak meninggalkan rumah, T harus merasakan kerasnya hidup di jalanan. Untuk bisa bertahan hidup T pun mengamen bersama anak jalanan lainnya, A.

Gresik dipilih keduanya untuk mengamen. Saat siang menjelang keduanya berangkat ke Gresik dengan menumpang pick up.

"Ya nggandol (numpang) pick up. Siang berangkat ngamen, sorenya pulang (ke Surabaya)," tutur T.

Saat mengamen T mampu menghasilkan uang Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu setiap harinya. Hasil mengamen ini lantas dibagi dua dengan R.

"Uangnya buat beli makan dan jajan di pasar malam," jawab T saat ditanya pemakaian uang hasil mengamennya.

Kini hampir 3 minggu T tinggal di Yayasan Star Arutala Surabaya. Perubahan besar pun dialami T. Hal ini seperti yang dirasakan sang ibu, N.

"Puji Tuhan anak saya bisa selamat dan sekarang ditampung di sini. Sekarang anaknya sudah mau ngomong, tadinya pas awal ditemukan enggak mau ngomong sama sekali. Anaknya diem saja," tutur sang ibu.

Sang ibu tak memungkiri jika apa yang dialami T tak terlepas dari kondisi di rumah. Sebagai anak ketujuh dari 9 bersaudara, T memang tak begitu diperhatikan kedua orang tuanya.

"Ini juga salah saya karena kurang perhatian sama T. Saya minta maaf sama T sudah lalai menjaganya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sang ibu menduga alasan T sering bolos sekolah karena kerap menunggak pembayaran sekolah.

"Mungkin dia malu karena sering nunggak bayar sekolah. Ya mau bagaimana lagi, kami juga bukan dari keluarga berada. Papanya sudah tidak kerja, selama ini kebutuhan sehari-hari ditanggung kakak T yang sudah bekerja," tukasnya.