Kisah Endang, Melukis dengan Kain Perca dan Dikenal hingga Mancanegara

Lukisan dari cat air mungkin sudah biasa dan banyak dijumpai. Tapi lukisan dari kain perca adalah hal yang jarang ada. Adalah FR Endang Waliati yang menciptakan karya unik ini.
Di usia yang semakin senja, Endang justru makin kreatif mengombinasikan kain perca menjadi karya lukis. "Kain perca itu unik, ada banyak pola dan warna. Kalau dirangkai justru menghasilkan gambar yang indah," ujarnya saat dikunjungi Basra di kediamannya, Rabu (19/6).
Mulanya, pelukis yang merupakan lulusan Bengkel Muda Surabaya ini memiliki kendala pada biaya jika memakai media lukis seperti cat air, cat minyak, maupun cat akrilik.
"Awal belajar melukis memang pakai cat biasa cuman tidak bisa berlanjut karena terkendala biaya alat-alat lukisnya, kalau kain perca kan memang kain sisa yang dibuang. Dan itu saya dapatkan dari penjahit tetangga rumah," ungkap nenek empat cucu ini.
Sekitar tahun 1985, Endang mulai mantap melukis dengan kain perca. Di awal memulai kariernya, Endang mengaku menemui banyak kesulitan. Salah satunya, tak banyak peminat lukisan kain perca di Indonesia.
"Untuk dalam negeri, memang akhir-akhir ini sudah tidak banyak peminatnya. Bahkan ada yang memandang sebelah mata lukisan saya karena terbuat dari kain sisa," imbuhnya.
Peminat di dalam negeri boleh saja berkurang, tapi bagi warga mancanegara, karya Endang sangat diapresiasi. Setiap kali mengikuti pameran yang menghadirkan tamu-tamu ekspatriat, lukisan Endang pasti laris manis. Bahkan lukisan Endang kerap dipamerkan di luar negeri, Prancis salah satunya.
"Saya tidak pernah ke luar negeri, tapi lukisan saya sudah melanglang buana ke berbagai negara," tukasnya seraya berseloroh.
Untuk harga lukisan Endang, bervariasi tergantung dari ukurannya, karena semakin besar ukurannya maka semakin rumit pula proses pembuatannya. Adapun lukisan berukuran 20 meter x 30 meter dibanderol Rp 400 ribu.
Saat ingin membuat lukisan, Endang menyebut keinginan itu muncul tak selalu diawali dengan ide alias spontan dan tanpa konsep. "Biasanya tanpa konsep, enggak tahu mau bikin apa, ya cuma menempel saja. Saat di tengah mengerjakan itu baru dapat konsep mau bikin apa," ujar pelukis asli Surabaya ini.
Waktu pengerjaan lukisan juga tidak bisa diprediksi, tergantung dari mood. Jika sedang tidak enak hati, Endang memilih tak melukis karena melukis dengan kain perca butuh ekstra kesabaran dan ketelatenan.
Bagi kamu yang tertarik belajar melukis dengan kain perca, eyang Endang membuka kelas workshop gratis.
"Mereka baru tertarik setelah tahu prosesnya. Kalau bahasa Jawanya mereka nggumun (heran), kain perca bisa untuk lukisan. Saya rela enggak dibayar, karena niat saya ingin berbagi ilmu," ujarnya.
Reporter: Masruroh Editor: Windy Goestiana
