Konten Media Partner

Kisah Guru di Surabaya Rela Tempuh Jarak 18 KM Setiap Hari demi Mengajar

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rusida, guru di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Rusida, guru di Surabaya. Foto: Masruroh/Basra

Profesi guru adalah panggilan hati. Jika tidak dijalani dengan hati, sulit bagi siapa pun bisa bertahan dengan profesi ini. Selain gaji yang masih jauh dari Upah Minimum Kabupaten/Kota, guru harus rela pula ditugaskan di lokasi yang jauh dari tempat tinggalnya. Ini pula yang dialami Rusida, Kepala Taman Kanak-kanak (TK) di salah satu sekolah di Surabaya.

Setiap hari perempuan yang kerap disapa Ida itu harus menempuh jarak sekitar 18 kilometer untuk menjalankan kewajibannya sebagai tenaga pendidik.

"Rumah saya di Kepatihan, Gresik. Ya perbatasan dengan Surabaya," ujar Kepala TK di kawasan Banyu Urip Surabaya ini, saat ditemui Basra, Selasa (25/11).

Jam pelajaran di sekolah tempat Ida mengabdi dimulai jam 7 pagi, agar tak terlambat sampai sekolah, Ida harus berangkat sekitar jam 5 pagi usai menunaikan ibadah salat subuh.

"Biasanya saya berangkat habis subuhan, sekitar jam 5 pagi, supaya tidak terlambat sampai sekolah karena di kawasan Surabaya barat itu kan area macet," terang Ida.

Mengendarai motor, Ida menempuh jarak belasan kilometer setiap hari demi menjalankan kewajibannya sebagai kepala sekolah sekaligus guru kelas. Ya, selain dipercaya sebagai kepala sekolah, perempuan berusia 50 tahun lebih itu juga dipercaya mengajar kelas sekaligus guru ekstra kurikuler seperti menari.

Bicara soal gaji, apa yang dijalani Ida setiap hari sungguh tak sebanding. Secara blak-blakan Ida mengaku menerima gaji dari TK tempatnya mengabdi sebesar Rp 750 ribu setiap bulan.

"Itu sudah include ya, karena selain kepala sekolah, saya juga pegang kelas dan juga mengajar ekstra kurikuler," tuturnya.

Selain gaji yang diterima dari yayasan TK, Ida tak menampik juga menerima gaji dari pemerintah kota di kisaran angka Rp 2 juta lebih. Namun dana ini hanya bisa didapatkan Ida setiap 3 bulan sekali dengan tanggal yang tak pasti.

"Setiap bulan dari dinas (Dinas Pendidikan) memang ada, sekitar Rp 2 jutaan sekian setiap bulan. Tapi baru kita terima setiap 3 bulan sekali dengan tanggal yang tidak menentu," jelasnya.

Meski dengan gaji yang masih jauh dari UMK Surabaya, namun Ida mengaku ikhlas menjalankan tugasnya. Profesi guru telah dijalankan Ida selama 36 tahun.

"Kita mengabdi dengan hati, anggap saja ini sebagai sangu (bekal) saya di akhirat. Insya Allah akan dapat balasan di akhirat nanti," tegasnya.

Di momen Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November, Ida berharap kesejahteraan guru terutama guru-guru di sekolah swasta terpencil lebih diperhatikan.

"Guru-guru sekolah swasta itu kan gajinya tergantung dari jumlah siswanya. Nah kalau sekolahnya tidak terlalu besar, otomatis gaji yang diterima juga kecil. Semoga di momen Hari Guru ini, pemerintah lebih peduli lagi kepada nasib guru termasuk soal kejelasan status kami," harapnya.