Kisah Murti, dari Tukang Bersih-bersih Toilet Kini Jadi Manager Hotel Berbintang
ยทwaktu baca 4 menit

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Sosok ibu luar biasa ada di diri Margi Astuti atau yang karib disapa Murti. Konsistensi dengan pekerjaan yang digelutinya sejak 2004 mampu mengantarnya menjadi manager di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Meski sukses berkarier namun Murti tak melupakan kodratnya sebagai ibu dari 2 putra.
"Saya putra ada 2, yang sulung mau 15 tahun, si bungsu berusia 7 tahun," tuturnya mengawali perbincangan dengan Basra, Jumat (22/12).
Saat ini Murti memiliki jabatan cukup mentereng, Manager House Keeping Movenpick Surabaya City. Jabatan ini diraih Murti dengan keringatnya sendiri. Mengawali profesi sebagai tukang bersih-bersih toilet di sebuah hotel di Surabaya pada 2004 silam, Murti menjalankan pekerjaannya dengan setulus hati. Apalagi Murti mengaku jika tak memiliki background atau pengetahuan terkait house keeping hotel.
Nekat, kata ini cukup mewakili Murti saat memutuskan hijrah ke Surabaya selepas lulus SMA di sebuah kota terpencil di Jawa Tengah. Gagal masuk perguruan tinggi yang menjadi impiannya, mendorong Murti menerima ajakan salah satu keluarganya untuk mengadu nasib di Kota Pahlawan.
"Ada saudara yang kerja di Surabaya. Dia ngajak ke sini untuk cari kerja karena saya gagal masuk perguruan tinggi di Jogja. Waktu itu tahun 2004. Ya sudah saya iyakan saja ajakan itu," kenang Murti.
Di Surabaya, Murti tak serta merta mendapatkan pekerjaan. Murti masih harus berjuang melamar pekerjaan ke sejumlah tempat. Tak ada bidang khusus yang menjadi tujuan Murti bekerja. Yang ada di benak Murti kala itu hanya mencari pekerjaan yang halal.
Hingga keberuntungan berada di pihak Murti. Setelah melamar pekerjaan ke sejumlah tempat, Murti diterima bekerja sebagai tenaga house keeping di salah satu hotel di Surabaya.
"Di JW Marriott waktu itu. Tapi tugas saya di luar ya artinya tidak di room hotel yang private karena status saya waktu itu bisa dibilang casual (tenaga lepas) dengan honor harian. Tugas saya bersih-bersih di public area hotel dan toilet," terangnya.
"Bisa dibilang itu keberuntungan buat saya karena tidak ada background house keeping tapi sudah bisa kerja di JW Marriott meski pun dengan honor harian dan hanya 20 hari kerja setiap bulannya," sambungnya.
Murti menunjukkan dedikasi pada pekerjaannya. Dia 'berguru' kepada seniornya di hotel tersebut. Keuletan dan kerajinan Murti dalam bekerja berbuah manis. Murti lantas 'naik pangkat' dengan ditempatkan di area private hotel.
Menjalani profesi sebagai house keeping atau tukang bersih-bersih tak membuat Murti berkecil hati. Murti menyadari jika pekerjaan yang digelutinya kerap dipandang remeh banyak orang, bahkan tak jarang Murti menerima omelan dari tamu hotel yang merasa tak puas dengan kinerjanya.
"Kerjanya sudah merasa yang terbaik tapi kadang masih ada komplain dari tamu. Itu diterima dengan sabar saja sambil terus memperbaiki diri. Apalagi kan memang saya juga butuh kerja. Kalau dikit-dikit komplain tamu dimasukkan hati wah ya sudah nggak kuat kerja," paparnya.
Usaha tak mengkhianati hasil. Sekian lama bekerja dengan pandangan miring orang, Murti kini mampu menduduki salah satu posisi penting di Movenpick Surabaya City.
"Sebelum di sini sempat pindah ke beberapa hotel. Tahun 2019 baru gabung di sini," tukasnya.
Seiring jabatannya yang meningkat maka tanggung jawab pekerjaan yang dipikul Murti juga bertambah. Ini berimbas pula pada jam kerja Murti yang relatif lebih lama dari sebelumnya. Alhasil waktu kebersamaan dengan dua buah hatinya juga berkurang.
"Pulang kerja sering malam ya. Pernah kepikiran untuk resign tapi pas diingat lagi kebutuhan buat anak-anak, akhirnya ya bertahan. Toh yang saya jalani ini buat anak-anak. Dulu saya enggak bisa kuliah, gagal masuk PTN dan tidak ada biaya untuk kuliah di kampus swasta. Anak-anak saya jenjang pendidikannya harus bisa lebih tinggi dari saya, apalagi mereka anak laki-laki calon pemimpin keluarganya," tekad Murti.
Maka saat hari libur, Murti benar-benar memanfaatkannya bersama keluarga. Tak muluk-muluk yang dilakukan Murti untuk bisa memiliki waktu berkualitas bersama keluarganya.
"Bersih-bersih rumah bareng, makan bareng di rumah, nonton TV. Kalau anak-anak ingin jalan keluar, baru kita keluar. Saya juga sering diskusi bareng anak-anak tentang kegiatan mereka di sekolah. Intinya meski waktu bareng anak-anak tidak banyak tapi komunikasi harus intens dilakukan. Kalau pas kerja, saya selalu menyempatkan telepon mereka, nanya sekolahnya gimana, kegiatan mereka apa saja. Itu harus ya," tandasnya.
