Konten Media Partner

Kisah Nenek Siti Maimunah, Jemaah Haji Tertua dari Pulau Dewata

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nenek Siti Maimunah. Foto: Humas Kemenag Jatim
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Siti Maimunah. Foto: Humas Kemenag Jatim

Tubuhnya yang renta tidak mengurangi semangat Siti Maimunah (89 tahun) untuk dapat menunaikan rukun Islam yang kelima yakni melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.

Terlahir pada Desember 1935, Siti Maimunah adalah jemaah haji tertua dari Bali. Nenek asal Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini tergabung dengan kelompok terbang (kloter) 71. Ia tiba di asrama haji pada Kamis (22/5) dini hari didampingi anak tertuanya, Mariyati (57 tahun).

Mariyati menceritakan sejatinya selama ini kondisi ibunya sehat-sehat saja.

"Alhamdulillah meskipun usianya hampir 90 tahun, ibu saya sehat-sehat, tidak ada sakit diabetes, darah tinggi atau sejenisnya. Hanya saja 5 bulan lalu, mungkin karena faktor usia ya, ibu terkena serangan jantung sehingga kondisinya tidak sesehat dulu," tutur Maryati.

Lebih lanjut Mariyati menceritakan, meskipun berusia hampir 90 tahun, sang ibunda masih aktif bertani di kebun cengkeh.

"Ibu baru berhenti karena terkena sakit jantung 5 bulan lalu. Sebelumnya masih aktif di kebun, sempat mengikuti manasik haji setelah diumumkan berangkat tahun ini. Setelah sakit, ibunda lebih banyak pemulihan di rumah," jelasnya.

Ia menuturkan jika ibu dan dirinya dapat mendaftar haji dari menabung hasil bertani cengkeh.

"Ibu adalah petani cengkeh. Alhamdulillah setiap panen, ibu sedikit demi sedikit menyisihkan uang untuk ditabung. Pada tahun 2019 kami bisa mendaftar haji," kenangnya.

Dari hasil panen itu juga, Siti menyisihkan uangnya untuk ditabung guna membayar biaya pelunasan haji.

Menurut Mariyati, sang ibunda sebenarnya telah berkeinginan sejak lama untuk berhaji.

"Tetapi kami belum mampu. Ibu ini anaknya banyak. Kami ini 9 bersaudara. Bapak sudah meninggal 27 tahun lalu. Baru 6 tahun lalu ibu dan saya dapat mendaftar," terangnya.

Perempuan yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga ini sangat bersyukur karena adanya layanan kuota prioritas lansia dan juga kuota pendampingan lansia, sehingga sang ibunda dapat berangkat lebih cepat dari masa tunggu seharusnya.

Mariyati berharap sang ibunda dapat mengikuti rangkaian ibadah dengan lancar.

"Tadi awal masuk asrama haji, ibu sempat dibawa ke poliklinik karena tekanan darahnya sedikit menurun. Alhamdulillah sudah stabil. Semoga kami diberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci," harap Maryati.

Siti Maimunah dan Mariyati terbang ke Tanah Suci pada Jumat (23/5) dini hari dengan maskapai Saudi Airlines nomor penerbangan SV 5471.