Kisah Neo, 5 Jam Potong Besi Beton Demi Evakuasi Santri Ambruknya Ponpes Buduran
·waktu baca 3 menit

Tragedi runtuhnya bangunan pondok pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, akhir September lalu cukup membekas bagi Tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya. Perjuangan tanpa lelah mereka lakukan demi menyelamatkan nyawa para santri yang terjepit reruntuhan beton.
Bagi Elvanio Santoso, salah satu Tim Rescue DPKP Kota Surabaya, tragedi Al-Khoziny adalah kejadian luar biasa pertama yang ia hadapi selama enam tahun bekerja di DPKP Kota Surabaya.
“Yang pasti ini menjadi kebanggaan tersendiri bisa ikut berpartisipasi atau ikut terjun langsung, kita dapat menyelamatkan korban yang terjebak dalam reruntuhan,” ujar pria yang kerap disapa Neo ini, Jumat (17/10).
Neo menceritakan bahwa aksi penyelamatan dilakukan pada hari pertama tragedi tersebut terjadi, Senin (29/9), sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kami datang dari hari pertama, terdengar suara Yusuf. Dia bilang, 'Pak, ada lubang. Tangan saya kelihatan tidak',” kenang Neo.
Setelah mendengar suara Yusuf, Neo menuturkan, tim segera menemukan keberadaan Yusuf dan beruntung tidak tergencet. Akses jalan menuju Yusuf awalnya sangat kecil, hanya sebesar botol air mineral dan hanya bisa digunakan untuk menyuplai minum dan biskuit.
Untuk menyelematkan Yusuf, tim rescue harus memperbesar lubang evakuasi. Oleh karena itu, Neo dan tim harus berdiskusi dengan Basarnas dan mulai melakukan pengerjaan yang memakan waktu 4 hingga 5 jam lamannya. Neo bekerja nonstop dari pukul 22.00 malam hingga lewat pukul 02.00 dini hari hingga kehabisan tenaga.
“Itu saya sudah kehabisan tenaga, akhirnya tugas akhir memotong rangka besi beton saya diserahkan teman saya, Abdul Aziz, sampai akhirnya Yusuf berhasil dikeluarkan dengan selamat,” terang Neo.
Sementara itu, tim rescue lainnya, Abdul Azis dan Galang Ferbi, memfokuskan upaya penyelamatan untuk membuka akses menuju santri bernama Haikal yang terjepit di reruntuhan. Tim mengeruk lubang masuk sedalam kurang lebih 5 meter.
Saat aksi penyelamatan, tekanan mental tim serasa diuji. Pasalnya, selain menghadapi situasi genting saat mengarahkan Haikal, mereka juga mendengar teriakan minta tolong dari sekitar lima korban lain di sisi yang sulit dijangkau.
“Akhirnya, kita mencoba menguatkan dan menenangkan para santri bahwa mereka akan segera diselamatkan,” ujar Azis menceritakan upayanya menenangkan para santri.
Evakuasi Haikal sulit karena posisinya terhimpit beton, hanya tangan kanannya yang bisa bergerak. Setelah membobol tanah sejauh 2 meter, pada Selasa (30/9) sekitar pukul 12.00 siang, Haikal mulai berteriak dan mengigau, “sudah jangan mainan itu. Haikal tidak bisa bernapas”.
“Mendengar teriakan tersebut, kita langsung melakukan koordinasi dengan tim pendamping dan berinisiatif memberikan suplai oksigen dan minum. Setelah mendapat suplai oksigen, Haikal akhirnya lebih tenang dan evakuasi bisa dilanjutkan,” imbuh Azis.
Proses evakuasi Haikal terus berlanjut bersama Basarnas hingga akhirnya bisa dikeluarkan dari reruntuhan beton yang menghimpitnya.
