Kisah Penenun Neno, Rela Bekerja Kejar Target Demi Upah Rp 150 Ribu Per Minggu
·waktu baca 3 menit

Suara dog..dog..dog..terdengar saat tangannya mulai menggerakkan alat tenun kayu di depannya. Matanya fokus tertuju pada benang yang tengah ditenunnya. Dia adalah Neno Ardiyanti (39 tahun). Sudah sejak lulus SMA, perempuan asal Tuban ini bekerja sebagai penenun gedog.
Tenun Gedog adalah batik tulis tenun khas Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Proses pembuatan wastra ini cukup panjang dimulai dari penanaman kapas, kemudian dipintal dan ditenun menggunakan alat tenun gedog yang menimbulkan bunyi khas "gedog". Namun dalam kesehariannya Neno hanya menenun benang yang dihasilkan dari pemintal benang.
"Saya cuma nenun, kalau pemintal benangnya ada sendiri," ujar Neno saat ditemui Basra dalam pameran UMKM Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2025 yang digelar Bank Indonesia (BI) Provinsi Jatim, akhir pekan lalu.
Menjadi penenun gedog telah dijalani Neno sejak lulus SMA. Sang ibu yang mengajari Neno menenun. Bahkan sang ibu yang kini berusia 62 tahun masih aktif menenun.
"Ibu saya penenun juga, beliau yang ngajari saya pas lulus SMA supaya bisa bantu-bantu ibu," tutur ibu dua anak ini.
Dalam kesehariannya Neno memulai aktivitas menenun pada pukul setengah delapan pagi. Pekerjaannya baru selesai pada pukul 4 sore. Neno bekerja setiap hari Senin hingga Sabtu.
"Hari Minggu libur, liburnya hanya hari Minggu, saat Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau tanggal merah (hari libur nasional) ya tetap kerja," terang Neno.
Menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) Neno mampu menghasilkan 4 hingga 5 meter kain tenun setiap harinya. Pekerjaan Neno membutuhkan tingkat ketelitian tinggi, jika tidak teliti dan tidak fokus maka kain tenun yang dihasilkan tidak akan rapi bahkan tak jarang jari-jari tangan akan tertusuk jarum mesin tenun.
Namun di balik kerja kerasnya sebagai penenun, upah yang diterima Neno jauh dari kata layak. Neno bekerja secara borongan, dari setiap satu meter kain yang dihasilkan, Neno akan menerima upah Rp 6 ribu. Jika Neno mampu menghasilkan 5 meter kain setiap harinya maka upah yang diterima Neno sebesar Rp 30 ribu per hari.
"Sistem kerja kita borongan, jadi harus kita target sendiri sehari bisa dapat berapa meter, supaya upahnya juga bisa dapat banyak. Kalau sesuai target ya seminggu bisa dapat Rp 150 ribu," ungkap Neno.
Jika dalam seminggu Neno mendapat upah Rp 150 ribu maka setiap bulan Neno akan menerima upah Rp 600 ribu.
Neno menyadari jika upah yang diterimanya tak sebanding untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun Neno tak bisa berbuat banyak. Bekerja sebagai penenun menjadi satu-satunya keterampilan pekerjaan yang dimiliki Neno.
"Ya mau kerja apalagi, sekarang usia saya juga sudah mau 40 tahun. Di Tuban cari kerja susah, jadi ya dijalani saja (sebagai penenun). Rejeki sudah ada yang ngatur," pungkasnya.
