Kisah Shin Hua, Barbershop Tertua di Indonesia yang Berusia 108 Tahun

Jauh sebelum bisnis barbershop menjamur seperti saat ini, di Surabaya ada tempat potong rambut pria yang sangat terkenal. Namanya, Shin Hua.
Arti Shin Hua dalam bahasa Indonesia adalah 'baru buka'. Tempat potong rambut yang berdiri sejak tahun 1911 ini memang masih buka meski banyak dari pelanggannya sudah meninggal dunia.
"Sekarang ini mungkin tersisa 50 orang saja. Itupun kebanyakan sudah enggak bisa naik ke lantai dua, jadi biasanya mereka telepon saya untuk datang ke rumah," kata Eddy Koestanto, generasi kedua pengelola Shin Hua saat ditemui Basra, Kamis (31/10).
Shin Hua adalah barbershop tertua di Indonesia. Lokasinya ada di Jalan Kembang Jepun No. 58 Surabaya. Umur Shin Hua kini 108 tahun. Sedangkan Eddy berumur 70 tahun.
Shin Hua didirikan oleh Tan Shin Tjo, ayah Eddy, yang merupakan perantauan dari Hokkiu, Tiongkok. Sebelum membuka Shin Hua, Tan Shin Tjo adalah karyawan dari tempat potong rambut Shin Se Kay di Pasar Pabean Surabaya.
Setelah dua tahun mengumpulkan pengalaman, Tan Shin Tjo akhirnya memberanikan diri untuk membuka barbershop-nya sendiri dan mendatangkan 20 kursi dari Tiongkok.
Ada empat jenis layanan yang diberikan Shin Hua yaitu, cukur rambut, cukur jenggot, membersihkan telinga (korek kuping), dan cuci rambut. Soal tradisi korek kuping ini Eddy mengaku dilatih khusus oleh ayahnya.
"Tiap malam setelah toko tutup, latihan pertamanya dengan meletakkan gelas di atas siku yang diangkat setinggi dada. Lalu pangkal siku digerakkan ke depan dan ke arah dada. Bolak-balik, tapi gelasnya tidak boleh goyang," kata Eddy.
Di Tiongkok, tradisi korek kuping ternyata jadi cara Kaisar perempuan bernama Pu Ce' Dien untuk melakukan negosiasi dengan para menteri. Saking rileksnya dikorek kuping, apapun yang dikatakan sang kaisar sang menteri pun hanya bisa berkata, "Iya."
Sejak tahun 1911 Shin Hua buka mulai jam 6 pagi sampai jam 6 petang. "Setiap hari paling sedikit ada 100 pelanggan," kata Eddy. Di antara banyak pelanggan Shin Hua, Alim Markus (pemilik Maspion Group) dan Liem Seeng Tee (Bos Sampoerna) adalah pelanggan tetap Eddy.
"Pak Alim Markus itu teman sekolah saya, sekelas saat SMA," kata Eddy sambil tersenyum.
Saat Basra berkunjung ke Shin Hua, ruangan ini masih asli sejak tahun 1911. Eddy tidak merenovasi bangunan karena ingin mempertahankan nostalgia Shin Hua era dulu. Kursi potong yang dulu ada 20 kini hanya ada tujuh.
Eddy juga mengaku belum memotong rambut satu orang pun di hari ini. Dalam sebulan, pelanggan Eddy yang datang tak sampai 20 orang. Kadang ada yang datang sebulan sekali, kadang ada yang dalam tiga bulan datang sampai empat kali.
Menurunnya jumlah pelanggan Eddy dia rasakan sejak tahun 2000-an. "Saya sadar, anak muda itu potong rambut biasanya di salon yang dia kenal, atau yang memotong orangnya juga harus muda supaya keliatan trendi," kata Eddy, anak kedelapan dari 17 bersaudara.
Sekali mencukur rambut di Shin Hua tarifnya Rp 50 ribu. Tapi harga ini ternyata tidak tetap karena Eddy tak pernah menyebutkan tarif khusus pada pelanggan baru. "Mereka biasa bayar Rp 15 ribu, kadang Rp 10 ribu. Ya saya terima saja," kata Eddy.
Meski menghadapi akhir masa kejayaan, Eddy mengaku dia akan terus menjadi tukang cukur rambut. "Saya akan terus ada di sini. Memotong rambut orang seperti ayah saya. Meskipun tidak ada lagi yang meneruskan," kata Eddy.
Popularitas Shin Hua ternyata didengar oleh dua saudara Oky Andries dan Fatsi Anzani yang akhirnya membukukan kisah Eddy dan Shin Hua di 'Peradaban Rambut Nusantara'.
Saat peluncuran buku tersebut di tanggal 18 Februari 2019, Eddy bahkan diundang ke Jakarta dan bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo. "Saya enggak akan lupa hari itu. Saya disapa Pak Jokowi dan ditanya kenapa naik kereta ke Jakarta. Saya jawab, saya enggak berani naik pesawat," tutup Eddy sambil tersenyum.
