KLB Polio Jangan Panik, Lakukan Ini Untuk Cegah Polio pada Anak
ยทwaktu baca 4 menit

Pertanyaan :
Halo dok, saya Yuni di Surabaya. Saya ingin bertanya tentang polio pada anak yang saat ini pemberitaannya cukup ramai. Diberitakan jika saat ini Polio ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) khususnya di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai ibu dari balita berusia 3,5 tahun, saya cukup cemas. Sebenarnya apa itu polio? Lalu apa dampaknya bila anak terkena polio? Dan apakah polio bisa dicegah dan disembuhkan? Terima kasih dok.
Jawaban :
Halo Yuni, terima kasih atas pertanyaannya. Kasus polio memang saat sedang hangat dibicarakan. Ini tak terlepas dari munculnya kembali kasus polio di Indonesia setelah sempat dinyatakan bebas polio pada 2014.
Polio adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya yang disebabkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf. Apabila terkena virus polio maka akan dapat menyebabkan kelumpuhan mendadak, cacat seumur hidup, gagal fungsi paru-paru, hingga menyebabkan kematian.
Virus polio ditularkan melalui mulut lewat makanan atau air yang terkontaminasi oleh kotoran/tinja yang mengandung virus polio. Virus akan berkembang biak dalam saluran pencernaan, lalu masuk dan menyerang sistem saraf khususnya susunan saraf pusat.
Apabila yang diserang saraf motorik (saraf yang mengatur alat gerak) maka bisa menyebabkan lumpuh layu mendadak. Kelumpuhan umumnya terjadi 7-21 hari setelah terinfeksi.
Polio ini tidak bisa diobati, namun bisa dicegah. Bagaimana caranya? Pencegahan polio bisa dilakukan dengan memberikan imunisasi polio pada anak secara lengkap dan tepat waktu. Jenis imunisasi polio yang wajib diberikan adalah imunisasi polio tetes atau oral polio vaccine (OPV) dan imunisasi polio suntik atau inactivated polio vaccine (IPV).
Imunisasi polio merupakan salah satu upaya untuk melindungi tubuh dari infeksi virus polio dengan cara membentuk imun atau kekebalan terhadap virus polio. Penyakit ini termasuk penyakit berbahaya dan dapat dialami siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak khususnya balita. Oleh karena itu, setiap orang tua perlu mewaspadainya.
Namun, sebelum membawa anak untuk imunisasi polio, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap orang tua. Yakni, apabila anak sedang sakit berat, misalnya muntah, diare berulang, demam tinggi dan tampak tidak aktif, imunisasi polio dapat ditunda hingga anak sembuh.
Sementara itu, vaksinasi tetap boleh dilakukan apabila anak hanya sakit ringan, seperti batuk pilek dan demam ringan, terutama jika ia masih bisa makan dan minum, serta tampak aktif.
Perlu diketahui, yang berisiko tinggi tertular virus polio antara lain, anak yang tidak imunisasi polio yang lengkap, anak yang tinggal di wilayah yang banyak anak tidak mendapatkan imunisasi polio lengkap sehingga tidak terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok) serta anak yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, misal kurangnya air bersih, buang air besar sembarangan dan tidak mencuci tangan dengan sabun.
Nah dengan kembali munculnya kasus polio maka ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah di Indonesia. Pemerintah pun mencanangkan gerakan Sub PIN (Pekan Imunisasi Nasional) polio.
Di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, Sub PIN Polio ini digelar di sekolah-sekolah PAUD dan TK, Balai RW, Puskesmas, Posyandu dan pos imunisasi lainnya. Imunisasinya gratis dengan menyasar anak usia 0 hingga 7 tahun. Jadi jika ibu memiliki anak berusia 0 sampai 7 tahun sebaiknya diikutkan imunisasi polio. Sub PIN Polio ini dilakukan 2 kali selang 1 bulan, putaran pertama berlangsung 15-21 Januari 2024, sedangkan putaran kedua di tanggal 19-25 Februari 2024. Imunisasi polio yang diberikan berupa polio tetes.
Anak yang sudah mendapatkan imunisasi rutin polio harus mendapatkan polio tetes saat Sub PIN . Tujuan pemberian tetes polio ini adalah untuk melindungi anak dari virus polio, menghentikan penyebaran virus polio dan menanggulangi KLB. Anak juga tetap harus melengkapi imunisasi rutin lainnya sesuai jadwal.
Pada SUB PIN polio, pemberian imunisasi nOPV2 tidak melihat interval imunisasi sebelumnya dan tidak menggantikan imunisasi bOPV atau IPV. Sub PIN Polio berdiri sendiri, termasuk dalam pencatatan dan pelaporannya.
Imunisasi tetes polio sangat aman. Lebih dari 250 juta dosis telah diberikan di dunia dan tidak dilaporkan adanya efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius. Jika muncul demam tidak perlu panik karena reaksi normal yang bisa terjadi pada anak setelah imunisasi, namun tidak semua anak mengalaminya. Jika demam cukup minum penurun panas, kompres air dan cukup minum.
Penggunaan tetes polio diawasi oleh Badan Pengawasan Keamanan Vaksin Dunia (Global Advisory Committee on Vaccine Safety/GACVS). Selain itu penggunaannya telah disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan di Indonesia telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pencegahan polio juga dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti BAB di jamban dan cuci tangan sebelum makan dan setelah Buang Air Kecil (BAK) maupun BAB.
Narasumber :
dr. Lini Delina Sp.A
Dokter Spesialis Anak
MedicElle Clinic Surabaya
