Kreasi Nenek Ermien, 'Sulap' Kertas Semen Jadi Tas dan Payung Unik

Bagi kebanyakan orang, kertas kemasan semen tak punya nilai pakai. Tak heran ketika semen habis maka kertas bungkusnya langsung dibuang. Namun, bagi Nenek Ermien Setyawati, kertas bungkus semen ibarat modal yang mendatang rezeki. Di usia yang menginjak 60 tahun, Nenek Ermien masih kreatif menghasilkan barang-barang dari limbah kertas bungkus semen.
Saat Basra berkunjung ke rumahnya di kawasan Semolowaru Elok, Surabaya, Senin (29/7), kreasi dari kemasan semen yang berbentuk tas dan dompet terpajang rapi di lemari kaca. Bahkan ada juga tumpukan kertas bungkus semen yang belum diolah.
"Maaf ya mbak, rumahnya berantakan," ujar Nenek Ermien, pemilik kreasi kertas semen ESM Collection ini. Nenek Ermien bercerita, bisnis kreasi kertas semen mulai dilakoninya sejak tahun 2011. Kala itu, Nenek Ermien baru saja mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur.
"Tadinya saya hanya ibu rumah tangga biasa. Setelah suami meninggal, saya mulai cari kesibukan, ikut pelatihan bikin kerajinan tangan, kan pelatihannya gratis," ungkap Nenek Ermien.
Nenek Ermien rutin mengikuti pelatihan membuat kerajinan tangan, mulai dari merajut hingga membatik, demi menghilangkan kesedihan karena kepergian sang suami. Hingga ada satu pelatihan yang membuatnya cukup tertarik, yakni mengolah limbah kertas bungkus semen.
"Saya tertarik karena kok bisa ya sak (kertas bungkus) semen dijadikan tas. Hasilnya bagus-bagus. Akhirnya saya tekuni sampai sekarang," kata Nenek Ermien.
Meski pelatihan daur ulang kertas pembungkus semen hanya berlangsung sekali, Nenek Ermien terus mencoba berkali-kali. Bahkan ia masih sering berkonsultasi pada mantan pemateri. Hasilnya, ia sukses membuat produk tas yang unik dan kreatif sesuai keinginannya.
Sejak memutuskan serius menekuni bisnis kreasi kertas pembungkus semen, Nenek Ermien selalu berinovasi. Awalnya produk-produk Nenek Ermien hanya menggunakan teknik jumputan untuk memberikan motif. Seiring berjalannya waktu, Nenek Ermien makin kreatif dalam berkarya.
"Saya kan juga pernah ikut pelatihan shibori, itu yang juga saya aplikasi dalam karya-karya saya," ujar Nenek Ermien.
Kertas bekas pembungkus semen menjadi bahan baku utama dalam setiap karyanya. Hanya saja perlu kehati-hatian ekstra agar kertas tak mudah robek, karena tidak seperti kain.
Sebelum jadi bahan baku utama, kertas bekas pembungkus semen membutuhkan perlakuan khusus. Mula-mula dua lapisan kertas dipisahkan dan dibersihkan. Lalu kertas diikat laiknya membuat batik jumput pada kain. Setelahnya, masuk pada tahap pembuatan motif di permukaan kertas.
Selanjutnya, kertas direbus untuk proses pewarnaan. Sekitar sepuluh menit direbus, kertas diangkat dan dikeringkan. Ikatan dibuka dan kertas dijemur. Setelah kering lalu disetrika.
"Pada tahap berikutnya, dipotong sesuai pola yang diinginkan. Sebelum dijahit, dilem dulu,” jelas Nenek Ermien.
Tak puas dengan motif batik jumput, nenek Ermien juga mengangkat shibori pada produknya. Sama ketika membuat motif batik, shibori juga bisa diaplikasikan pada kertas.
Terus berinovasi, Nenek Ermien lantas membawa teknik ecoprint pada produknya. Pada teknik ini, Nenek Ermien memakai daun jati yang bisa meninggalkan motif pada kertas semen usai direbus bersamaan. Motif daun jati tampak jelas terlihat pada produk-produk ESM Collection.
Selain dompet dan tas tangan, Nenek Ermien kini sedang membuat payung berbahan limbah kertas pembungkus semen.
Selain dipasarkan di rumah, produk kreasi Nenek Ermien lebih banyak dijual di pameran UMKM.
Harga jual produk olahan kertas semen ini relatif terjangkau untuk proses yang rumit. Untuk dompet dibanderol dengan harga Rp 10 ribu, sedangkan tas rata-rata seharga Rp 200 ribu.
"Kalau payung saya belum bisa menentukan harganya, karena prosesnya harus dituntaskan dulu untuk mengetahui biaya produksinya," pungkasnya.
(Reporter : Masruroh/Editor : Windy Goestiana)
