Konten Media Partner

Kreatif, Inilah Olahan Buah Mangrove Jadi Tepung MPASI Bergizi Tinggi

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Desain logo produk MPASI bebas gluten RooveBites, gagasan tim mahasiswa ITS.
zoom-in-whitePerbesar
Desain logo produk MPASI bebas gluten RooveBites, gagasan tim mahasiswa ITS.

Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang banyak beredar di pasaran saat ini mengandung protein berupa gluten, karena masih berbasis tepung terigu dan tidak semua bayi dapat mengonsumsi gluten.

Di mana gluten dapat menimbulkan gangguan jaringan saraf dan fungsi otak bagi bayi penderita autisme dan penyakit celiac.

Berlatar belakang hal itu, lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuat sebuah ide bisnis MPASI bebas gluten berbahan dasar buah mangrove yang aman di konsumsi semua bayi.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Miftahul Jannah, Sarazen Shalahuddin Akbar, Widya Anastasya Ningtiyas, Nova Ainur Rohma, dan Ardi Lukman Hakim.

Miftahul Jannah selaku ketua tim menuturkan, dipilihnya buah mangrove sebagai bahan dasar pembuatan produknya adalah karena buah mangrove merupakan salah satu bahan pangan bebas gluten yang bernutrisi tinggi.

"Kami menggunakan buah mangrove berjenis lindur karena kandungan nutrisinya tinggi dan dapat diolah menjadi tepung. Karena sejatinya tepung buah mangrove telah memenuhi kriteria bahan pangan yang sehat, yaitu mengandung protein, serat, vitamin A, B1, dan C . Selain itu pemanfaatan buah mangrove juga untuk memaksimalkan potensi sumber daya lokal yang melimpah namun belum banyak dimanfaatkan,” jelas Miftahul, Selasa (18/5).

Selain berbasis tepung buah mangrove, Miftahul menuturkan, produk MPASI bernama RooveBites ini juga ditambah kandungan asam amino dan riboflavin dari Glycine max yang diperlukan dalam masa pertumbuhan bayi.

"RooveBites memiliki dua varian produk, yaitu RooveBites Porridge berupa bubur untuk bayi berusia di bawah 6-12 bulan dan RooveBites Toddler berbentuk biskuit untuk bayi berusia di atas 12 bulan," tuturnya.

Tampilan kemasan RooveBites Porridge dan RooveBites Toddler yang digagas tim mahasiswa ITS.

Terkait proses pengolahannya, pertama buah mangrove terlebih dahulu diproses menjadi tepung. Pada tahap awal buah akan direbus selama 20 menit kemudian dikupas dan dipotong.

Selanjutnya buah kembali direbus menggunakan abu sekam lalu dicuci. “Pada perebusan kedua buah perlu direbus lebih lama untuk menghilangkan kandungan sianida dan tanin yang berbahaya bagi kesehatan,” papar mahasiswi dari Departemen Kimia ITS ini.

Setelah itu, hasil perebusan kedua yang telah dicuci akan direndam selama 48 jam lalu dikeringkan dan digiling menggunakan blender. Setelah digiling, buah akan berbentuk tepung yang kemudian akan dicampurkan dengan Glycine max.

“Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi bubur instan dan biskuit yang pengolahannya seperti pada umumnya,” ungkapnya.

Dari segi kemasan, RooveBites menggunakan kemasan berbahan aluminium foil. Selain harganya terjangkau, aluminium foil dapat meminimalisir masuknya udara dan bakteri karena material ini tidak bisa ditembus cahaya matahari.

Dalam rancangan pemasaran produk sendiri, tim ini memanfaatkan penjualan daring lewat platform e-commerce dan mempromosikan produk di lokasi yang ditargetkan.

“Pemasaran offline mengutamakan daerah sekitar toko bayi, rumah sakit anak dan bayi, klinik anak dan bayi, tempat penitipan anak dan bayi, serta komunitas pengidap autisme,” terangnya.

Ke depan, ia berharap produk ini dapat diuji lebih lanjut dan dapat diedarkan ke pasaran. “Harapannya, produk ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan dapat dipasarkan dalam skala nasional hingga internasional,” pungkasnya.

Berkat inovasi itu, Miftahul dan tim berhasil meraih medali silver dalam kompetisi Business Plan yang diadakan Edutainer Nusantara Fair (ENF) 2021.