Mahasiswa ITS Bikin Rumah Pintar Garam Bertenaga Surya

Guna meningkatkan produksi petani garam di Wilayah Kabupaten Banyuwangi, mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat sebuah inovasi Smart House Salt Maker dengan tenaga surya bernama SHASA.
Smart House Salt Maker Tenaga Solar Cell untuk tersebut merupakan karya Muhammad Arif Billah.
Arif bercerita, di masa pandemi COVID-19 ini memberikan banyak pengaruh di berbagai bidang, termasuk sektor industri garam.
Ditambah lagi dengan adanya cuaca yang makin tak menentu, juga membuat para petani, khususnya di daerah Banyuwangi, kesulitan dalam proses produksi.
Berlatar belakang hal itu, Arif tertarik untuk membuat sebuah sistem tambak yang dapat memproduksi garam secara otomatis tanpa terpengaruh oleh cuaca.
“SHASA ini merupakan rumah garam yang berbentuk setengah lingkaran dan di bawahnya terdapat kolam garam dan lampu pemanas. Lampu tersebut dikontrol menggunakan arduino dan sensor yang berfungsi untuk memanaskan air laut yang masuk ke dalam rumah garam,” kata Arif, Sabtu (27/2).
Selain itu, SHASA juga dilengkapi dengan empat sensor lain, seperti sensor cahaya, sensor hujan, sensor salinitas, serta sensor suhu dan kelembaban. Dimana sensor-sensor tersebut memiliki peran penting dalam mendeteksi keadaan cuaca sekitar
Arif mencontohkan, jika cuaca mulai mendung dan terjadi hujan, sistem pemanas dari SHASA akan bekerja sehingga air tua atau air jenuh dari laut tetap dapat terproses. Meskipun sistem ini dinilai tidak ekonomis bagi para petani garam, namun sebenarnya pengeluarannya terhitung lebih murah jika dibandingkan dengan jumlah produksi garam yang dihasilkan.
“Untuk kolam berukuran 7x8 meter diprediksi mampu menghasilkan garam sebanyak 500 kilogram, dan jika harga garam berada di kisaran Rp 500 per kilogram maka untung yang dihasilkan bisa lebih banyak,” jelasnya.
Arif mengaku memilih Banyuwangi sebagai objek studi kasusnya karena cuaca dan iklim di Kota Gandrung tersebut cocok dijadikan lahan garam.
Terlebih, kota tersebut juga identik dengan Kota Tuban yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, ide tersebut diharapkan mampu menjadi pilihan alternatif bagi petani dalam mengoptimalisasi produksi dan kualitas garam.
Ke depan, Arif berharap ide tersebut tak hanya berupa gagasan, melainkan dapat direalisasikan ke kehidupan nyata. Selain itu, dirinya juga berharap agar ide cemerlangnya ini dapat dikembangkan dan dilirik oleh para stakeholder seperti pemerintah dan institusi lainnya.
“Semoga garam lokal dapat terus berkembang, sehingga mampu mengurangi ketergantungan impor,” pungkasnya.
Berkat ide tersebut, Arif berhasil mendapatkan medali perak dalam Online National Essay Competition yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) Sumatera, beberapa waktu lalu.
