Mahasiswa ITS Buat Portable Charger Green Hydrogen untuk Kendaraan Listrik
·waktu baca 2 menit

Kurangnya infrastruktur untuk pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia, menginspirasi tim Antasena PCEV Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang portable charger berbasis green hydrogen pada aplikasi kendaraan listrik.
Inovasi itu dirancang untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap mobil listrik di Indonesia.
Ketua tim Antasena PCEV, Ibrahim Fathahillah Hizbul mengatakan, jika portable charger untuk electric vehicle (kendaraan listrik) dapat mendukung percepatan program kendaraan bermotor listrik yang dicanangkan pemerintah Indonesia.
Fatah dan tim mendesain pengisi daya yang diberi nama Portable Charger Electric Vehicle (Antasena PCEV) yang mampu memberikan efisiensi energi, sehingga meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap kemudahan penggunaan mobil listrik di Indonesia.
"Alat ini dirancang dengan dimensi 0,98 x 0,56 x 0,79 meter kubik, dan memiliki dua mode penggunaan yaitu portable dan generator,” ucapnya, Rabu (14/7).
Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi ini mengatakan jika mode portable digunakan saat ingin bepergian jauh khusus pada mobil listrik. Sedangkan mode generator dapat digunakan untuk charging semua electric vehicle tanpa listrik PLN di rumah masing-masing.
“Kedua mode tersebut beroperasi dengan memasukkan air pada reaktor hidrogen, sehingga menjadi keunikan tersendiri sebagai generator zero emission dengan bahan air yang mudah didapatkan,” tuturnya.
Fatah menjelaskan, sistem kerja Antasena PCEV tersebut yaitu dengan mengelektrolisis air menjadi green hydrogen dalam reaktor yang menggunakan daya 456 watt dengan NaOH. Kemudian, akan terbentuk gas Hidrogen Hidrogen Oksigen (HHO) yang selanjutnya dialirkan dan dikonversi menjadi energi listrik hingga 7 kilowatt oleh Internal Combustion Engine (ICE) hidrogen.
“Sehingga kompatibel untuk fast charging mobil listrik dengan waktu 1 jam 58 menit pada baterai 13,8 kilowatt,” jelasnya.
Antasena PCEV diperkirakan dapat menghasilkan listrik hingga 20.440 kilowatt pertahun, dengan estimasi harga alat sekitar Rp 14 juta. Fatah dan tim meyakini jika harga tersebut sangat rendah jika dibandingkan listrik PLN yang mencapai Rp 29.529.668 pertahun, sehingga hal tersebut masih terjangkau untuk dibeli masyarakat.
“Selain itu, pada kondisi maksimum baterai, diperkirakan jarak yang dapat ditempuh adalah 133,86 kilometer,” ungkapnya.
Melalui inovasi tersebut, Fatah bersama kedua rekannya Rikza Octavian Pratama dan Risa Wahyu Widyastuti berhasil meraih kategori Best Vote dalam ajang Astra Green Energy Student Innovation (AGEn SI) 2021.
"Ke depan kami akan mengembangkan inovasi ini. Kami juga berharap agar Antasena PCEV dapat terealisasi untuk diproduksi secara massal, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
