Konten Media Partner

Mahasiswa Unair Bangun Pengairan di Desa Ko'ol, Madura, dengan Tenaga Surya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa Unair Bangun Pengairan di Desa Ko'ol, Madura, dengan Tenaga Surya
zoom-in-whitePerbesar

Guna meningkatkan ketersedian air bersih di Desa Ko'ol, Bangkalan, Organisasi Jamaah Intelektual Mahasiswa Muslim (JIMM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair berinovasi membuat sistem pengairan dari panel surya.

Wahyu Addin Pratama selaku ketua tim mengatakan, jika Desa Ko'ol termasuk daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama untuk menghidupi sektor pertanian.

Untuk itu, ia dan tim menginisiasi membuat sumur bor dilengkapi dengan pompa submersible dengan kedalaman sekitar 70-80 meter.

Hal ini mendorong pembangunan berkelanjutan atau SDGs poin ke-6 (air bersih dan sanitasi layak), SDGs poin ke-7 (energi bersih dan terjangkau), serta SDGs poin ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi).

"Kami juga mengusung konsep edutourism dalam bentuk desa wisata taman bunga dan hidroponik. Dari sini UMKM di Desa Ko’ol sedikit demi sedikit ekonominya terangkat sehingga nantinya diharapkan tercipta masyarakat yang sejahtera,” ucap Wahyu, Rabu (20/10).

Wahyu menuturkan, untuk meminimalisir emisi karbon, tim mengajak warga memanfaatkan tangkapan panel surya. Hal tersebut senada dengan SDGs poin ke-13 (penanganan perubahan iklim) melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Kondisi alam di Desa Ko'ol memiliki cahaya matahari yang sangat terik, jadi ya penggunaan panel surya skala rumah tangga bisa optimal untuk menghasilkan listrik selama matahari ada. Selain itu bisa mencegah pemanasan global, bencana hidroklimatologi dan lain sebagainya,” tuturnya.

Pada proses mematangkan perencanaan, tim mulai memasang panel surya pada bracket (kerangka panel). Selanjutnya, menghubungkannya ke controller, aki dan inverter (pengubah arus DC ke AC) hingga arus listrik siap digunakan untuk menghidupkan pompa air.

Setelah itu, air yang keluar dari tanah otomatis tertampung dalam tandon sehingga bisa dibuat untuk mengairi sawah maupun menyirami tanaman hidroponik.

"Desa Ko’ol ini bisa sebagai pionir dan rujukan dalam perwujudan desa mandiri energi. Kami juga akan mensosialisasikan tahapan serta mekanisme kerja kepada warga setempat, khususnya anggota karang taruna," ucapnya.

Berkat inovasi itu, tim JIMM berhasil lolos funding sebesar Rp 49,5 juta dalam ajang Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) 2021, yang merupakan program lanjutan dari Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) gelaran Kemendikbud Ristek pada Juni lalu hingga November mendatang.