Konten Media Partner

Menelisik Jejak Pendekar Kungfu Asal Tiongkok di Surabaya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dony Djung, sesepuh di Kampung Kapasan Dalam, yang juga pendekar kungfu. Foto-foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Dony Djung, sesepuh di Kampung Kapasan Dalam, yang juga pendekar kungfu. Foto-foto: Masruroh/Basra

Kawasan Kapasan di Surabaya dikenal sebagai Pecinan. Ada salah satu sudut di kawasan tersebut yang dulunya dikenal sebagai Kampung Kungfu. Tempat tersebut terletak di kampung yang berada di belakang Klenteng Boen Bio.

Dikisahkan Dony Djung, tokoh sesepuh setempat, jika nama Kampung Kungfu sudah mulai ada sejak sebelum abad 19.

"Namanya sendiri dulu Kampung Randu karena disini dulu banyak ditumbuhi pohon randu. Dikenal sebagai Kampung Kungfu karena dulu mayoritas warga Tionghoa disini pandai ilmu beladiri kungfu. Malah sama Belanda warga disini dijuluki Buaya Kapasan," jelas pria berusia 70 tahun ini, kepada Basra, Rabu (24/2).

Dijuluki Buaya Kapasan, lanjut Dony, karena selain mahir beladiri kungfu, warga disana sangat sulit ditaklukkan Pemerintah Belanda yang kala itu berkuasa di Surabaya.

Seiring berjalannya waktu kawasan tersebut, kata Dony, dikenal dengan nama Kampung Kapasan Dalam karena banyaknya kapas yang dihasilkan pohon randu kala itu. Sedangkan kata 'Dalam' merujuk pada lokasinya yang menjorok ke dalam, di belakang Klenteng Boen Bio.

Salah satu sudut Kampung Kapasan Dalam di Surabaya, yang dulu menjadi tempat tinggal pendekar kungfu asal Tiongkok.

Sayangnya, kemahiran warga setempat akan ilmu beladiri kungfu nyaris punah. Pasalnya, seperti diakui Dony, tak ada generasi muda di kawasan tersebut yang tertarik kungfu.

"Yang mahir kungfu disini sekarang hanya generasi tuanya saja. Anak-anak muda ndak mau belajar kungfu. Mereka terlalu sibuk dengan gadget. Padahal disini masih ada latihan kungfu meski pesertanya tidak banyak. Mereka dari luar Kapasan Dalam yang belajar kungfu pada warga disini. Tapi sementara ini latihan dihentikan karena ada pandemi," papar Dony.

Tak hanya ilmu kungfu yang terancam punah, jejak rumah kungfu juga sudah tak ditemukan lagi di kawasan tersebut. Ini karena kebakaran hebat yang melanda kawasan tersebut dua tahun lalu. Kebakaran tersebut menghanguskan 17 rumah, salah satunya rumah Dony.

"Dulu rumah saya dikenal dengan Rumah Kungfu, karena memang menyimpan senjata-senjata kungfu milik saya. Tapi ludes terbakar, yang tersisa hanya dua pedang saya, itu pun wujudnya sudah tidak karuan," ungkap kakek yang terlahir dari ayah asal Tiongkok dan ibu asli Lamongan ini.

Dony bersama warga seusianya yang mahir beladiri kungfu tetap berupaya melestarikan ilmu beladiri asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Caranya dengan melatih kungfu bagi generasi muda.

"Tapi yang tertarik malah anak-anak muda dari luar Kapasan Dalam. Ya mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksa. Belajar kungfu itu tidak boleh dengan paksaan, harus dari hati," simpul Dony.