Konten Media Partner

Menengok Rusun Tertua di Surabaya yang Masih Dihuni 3 Keluarga

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah susun tertua di Jalan Irian Barat No. 19 Surabaya. Foto-foto: Amanah Nur Asiah/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Rumah susun tertua di Jalan Irian Barat No. 19 Surabaya. Foto-foto: Amanah Nur Asiah/Basra

Tidak banyak yang tahu kalau di Surabaya ada rumah susun tertua yang masih berpenghuni. Menurut cerita, rumah susun tersebut dibangun sekitar tahun 1950-an dan dimiliki oleh dua pihak, PT Dok dan Perkapalan Surabaya serta PTPN.

Meski tak ada dokumen valid yang bisa menjelaskan usia bangunan ini, tapi kondisi fisik rusun sedikit memberikan petunjuk. Dinding rusun yang dicat putih ini mulai tampak lusuh, berlumut, dan kotor karena debu yang lama tak dibersihkan. Beberapa kaca juga tampak pecah dan atapnya juga mulai lapuk.

Walau tampak tidak terawat, tapi ada tiga keluarga yang tinggal di rusun tersebut.

Saat Basra berkunjung ke rusun empat tingkat itu di siang hari, langsung terasa suasana sunyi yang menyergap. Tak banyak tanda-tanda kehidupan di rusun tanpa nama tersebut. Tak ada suara anak-anak yang bermain ramai, juga tak nampak tetangga yang saling mengobrol di pelataran rusun. Sungguh sepi dan berbeda dengan suasana rusun kebanyakan.

Rika Siti Soendari penghuni terlama rusun di Jalan Irian Barat Surabaya.

Beruntung, Basra bisa menemui Rika Siti Soendari, wanita berusia 82 tahun ini merupakan penghuni terlama di rusun Jalan Irian Barat. Rika merupakan penghuni unit di lantai 3 nomor 19D.

Rika pun bercerita awal mula dirinya tinggal di rusun yang disebutnya flat itu. Saat berusia remaja, Rika pindah dari Yogyakarta ke Surabaya karena mengikuti dinas sang ayah M. Moeksis. Sampai saat ini sudah sekitar 53 tahun Rika tinggal di rusun tersebut.

"Dulu agak ramai, karena masing-masing ruangan masih ada warganya. Sekarang banyak yang pindah, karena mungkin capek naik turun tangganya. Jadi ya sepi," cerita Rika pada Basra, Sabtu (3/10).

Para penghuni rusun tersebut, kata Rika, juga para karyawan PTPN dan PT Dok Perkapalan. Dari puluhan orang yang dulu tinggal di situ, kini tersisa hanya tiga keluarga termasuk Rika. Dua keluarga lain tinggal di lantai 1 dan lantai 2.

Berbeda dengan rusun lain yang memiliki tarif sewa untuk penghuni, Rika mengaku kalau ia hanya membayar untuk biaya listrik dan air saja.

"Kalau dulu ayah masih kerja kan apa-apa kantor yang menyediakan. Sekarang ya kita biaya sendiri. Satu bulan bisa kena Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu," ucapnya.

Meski menjadi penghuni terlama di rusun Irian Barat, Rika mengaku tak pernah mengalami kejadian aneh selama tinggal di sana.

"Ndak ada kejadian aneh-aneh. Karena ini ya rumah lama. Kalau sore emang agak gelap, tapi di sini aman. Kalau dibilang takut ya takut, apalagi ini rumah lama dan banyak yang kosong," ujar perempuam 82 tahun ini.

Rika tinggal di rusun bersama asisten rumah tangga yang juga sudah sepuh. Dua anak Rika tidak ikut tinggal di rusun karena mereka sudah bekerja dan punya tempat tinggal sendiri di Bali dan Tuban.

"Anak saya yang satu kerja di Surabaya. Kalau Senin sampai Jumat sore nemenin saya di sini (rusun). Nah Jumat malam sampai Minggu dia pulang ke Tuban. Kalau sama tetangga bawah nggak terlalu akrab kita, jadi suasana sudah beda sekali. Sekarang kayak sendiri-sendiri," tuturnya.

Meski rusun lama, tapi ruangan yang ditinggali Rika cukup lega. Ada dua kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Rika bilang, beberapa perabotan seperti kursi, meja, dan lemari juga masih asli peninggalan Belanda.

"Yang di ruangan ini masih asli semua, saya hanya menambahkan ruang di samping untuk gudang. Barang-barang ini masih asli," pungkasnya.

Dalam kesehariannya, Rika menghabiskan waktunya untuk membaca buku, menjahit, dan menonton televisi bersama Sudarmi, asisten rumah tangganya. Kalau sedang ingin belanja, dua nenek ini akan meminta tolong tukang becak untuk berbelanja. Maklum, Rika dan Sudarmi mengaku lelah bila harus naik turun tangga lantai tiga.

"Dua tahun lalu saya jatuh di sini. Apalagi sekarang lagi pandemi jadi ya hanya di dalam rumah saja nggak turun-turun. Kalau nggak gitu ya di halaman belakang untuk berjemur," kata Rika.

video youtube embed