Konten Media Partner

Mengenal Berbohong Patologis Si Kebiasaan Buruk Berbohong Tanpa Sebab

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi berbohong. Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berbohong. Pixabay

Pembohong patologis merupakan kondisi seseorang melakukan kebohongan tetapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong,

Mengenai hal itu, Nido Dipo Wardana SPsi MSc, mengatakan, bahwa fenomena pembohong patologis, harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis namun memiliki motif yang jelas di balik kebohongannya.

“Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi,” ujar Nido, Selasa (12/4).

Nido menuturkan, bahwa penyebab seseorang menjadi pembohong patologis belum diketahui secara pasti lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah.

Namun, dari sudut pandang biologis, Nido menjelaskan bahwa terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis utamanya di bagian otak depan.

“Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan,” jelasnya.

Sementara dari sudut pandang psikologis, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis ini kerap kali ditemui pada individu yang memiliki harga diri rendah. “Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya,” tuturnya.

Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga ini mengungkapkan, seorang pembohong patologis tidak jarang akan mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal itu, dikarenakan tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain guna menjelaskan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya.

“Itu semacam rantai yang susah diubah sehingga secara komitmen memberatkan individu karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar,” ungkap Nido.

Nido menegaskan, mengingat masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis itu, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak.

“Kalau misalnya kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini. Tentu saja dengan terapi serta mungkin nantinya bisa dikembangkan medikasi dan segala macam. Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi,” jelasnya.

Untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong yang patologis, menurut Nido tentu bukan perkara yang mudah. Jika orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan merupakan seorang pembohong patologis, Nido menyarankan agar tidak menghadapinya dengan konfrontasi penuh.

“Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir gimana (solusi) selanjutnya,” pungkasnya.