Mengenal Legenda Mbah Bungkul dan Sejarah Desa Islam di Surabaya
·waktu baca 3 menit

Bagi masyarakat Surabaya, keberadaan makam Mbah Bungkul atau Ki Ageng Mahmuddin, sudah tak asing lagi. Makam yang berlokasi di sekitar Taman Bungkul Surabaya ini pun juga masih ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat bulan Ramadan seperti sekarang.
Menurut legenda, Mbah Bungkul merupakan penguasa muslim salah satu daerah di Surabaya pada abad ke-14 Masehi. Lantas bagaimana legenda Mbah Bungkul sebenarnya?
Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair), Adrian Perkasa, SHum MA menjelaskan bagaimana legenda atau folklore, serta prasasti meriwayatkan kisah Mbah Bungkul.
“Tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa dijadikan dasar rekonstruksi sejarah masa hidup Mbah Bungkul, sehingga sumber yang didapat hanya berasal dari tradisi lisan atau legenda,” jelas Adrian, Jumat (29/4).
Menurut Adrian, dalam legenda tidak diketahui dengan jelas bagaimana kisah Mbah Bungkul memeluk Islam dan bagaimana ia menyebarkan ajaran Islam di Surabaya.
Namun diketahui bahwa Mbah Bungkul mengadakan sebuah sayembara untuk mencari menantu dengan melarung buah delima.
”Saat sayembara, akhirnya larung delima itu didapatkan oleh Raden Paku atau Sunan Giri, yang merupakan tokoh Wali Songo paling terkenal,” ungkapnya.
Legenda lain juga menyebutkan, bahwa Mbah Bungkul berkaitan dengan tokoh Empu Supo yang dalam tradisi legenda dikenal sebagai pembuat pusaka.
“Jika melihat para komunitas Empu pembuat keris dan pusaka yang masih ada saat ini, mereka banyak mengisbatkan ajarannya berasal dari Empu Supo,” tambahnya.
Meski demikian, hampir seluruh daerah pesisir utara Jawa Timur menyebutkan adanya makam Empu Supo di daerahnya. Seperti daerah Lamongan dan Tuban. Sehingga belum jelas kebenaran terkait Mbah Bungkul dan Empu Supo sebagai orang yang sama.
Dalam Prasasti Trowulan atau Canggu yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk meriwayatkan, beberapa desa yang mendapat keistimewaan bebas pajak, mendapat akses ke kerajaan, serta bebas melaksanakan ibadah.
Desa-desa itu terletak di daerah aliran sungai besar Jawa Timur, seperti Brantas dan Bengawan Solo. Dimana desa-desa tersebut juga melaksanakan ibadah 5 waktu.
“Hal itu mengindikasikan bahwa Islam sudah ada di daerah Bungkul sejak masa kejayaan Majapahit pada kekuasaan Hayam Wuruk. Ki Ageng Bungkul sebagai penguasa punya peran istimewa, sehingga bisa mendapatkan privilege pada masa kejayaan majapahit,” jelas Adrian.
Adrian menuturkan, pada masa itu, letak geografis Bungkul yang strategis dan dekat dengan aliran sungai memicu berbagai keuntungan. Dari sisi ekonomi, sebelum dibangunnya jalur darat oleh Daendels, sungai merupakan kawasan strategis ekonomi karena menjadi jalur utama aktivitas perdagangan.
“Secara religi, daerah Bungkul sangat strategis dalam persebaran ajaran Islam, hal itu bisa dilihat dari keberadaan legenda yang menyebutnya sebagai mertua Sunan Giri, serta adanya makam Adipati dan Demang dalam kompleks makam Mbah Bungkul tersebut,” tuturnya.
Adrian menambahkan, bahwa mempelajari sejarah merupakan hal yang penting. Pasalnya, dengan mempelajari Islamisasi yang terjadi di masa lalu, kita bisa mengambil hikmah agar terhindar dari anakronisme sejarah.
Menurutnya, Islam tidak datang begitu saja secara masif dan mengganti seluruh agama di Indonesia. Tetapi melalui proses panjang yang dilakukan sejak zaman kerajaan Majapahit.
“Betapa sentral walisongo dan ajarannya menyebarkan islam sehingga bisa menjadi agama yang dominan hingga hari ini,” pungkasnya.
