Mengenal 'Middle Child Syndrome', Saat Si Anak Tengah Merasa Terabaikan

Masalah psikologis middle child syndrome (sindrom anak tengah) dapat menyerang salah satu anak bagi orang tua yang memiliki lebih dari dua anak.
Anak tengah yang mengalami sindroma biasanya sensitif terhadap perlakuan orang tua terhadap dia atau saudaranya. Bahkan anak tengah cenderung memberikan reaksi tipikal seperti memberontak, menarik diri, marah, protes, hingga anak juga akan berusaha menarik perhatian orang tua.
Guna mencegah hal itu terjadi, Rudi Cahyono, M.Psi., dosen dari Fakultas Psikologi Unair mengatakan perhatian orang tua adalah kunci utama untuk mencegah terjadi middle child syndrome pada anak tengah.
Menurutnya, orang tua harus segera menyadari bahwa kehadiran anak ketiga mulai menarik perhatian kakak-kakaknya, sedangkan perhatian ibu mulai tercuri.
“Jadi para orang tua harus mengembalikan perhatian tersebut hingga sama rata. Anak tengah harus dibuat merasa orang tua memperhatikan semua anaknya. Anak tengah harus dapat merasa disayang sebagaimana orang tua menyayangi saudara yang lain. Dia juga bisa kena marah sebagaimana saudara yang lain juga dimarahi,” kata Rudi, Jumat (21/8).
Tak hanya itu, orang tua juga dapat melakukan kegiatan bersama untuk menetralisir perasaan terabaikan dari anak tengah.
Misalnya, memberikan penugasan untuk melakukan aktivitas bersama dan berbagi tanggung jawab yang bisa berdampak timbal balik.
"Kakak bertugas membantu adik belajar. Kakak bisa membantu anak kedua atau anak tengah. Anak tengah diberikan tugas membantu adik kecilnya. Terus jangan lupa diapresiasi atau dimunculkan kesan bahwa pemberian tugas tersebut adalah karena kemampuan anak atau kepercayaan dari orang tua,” jelasnya.
Namun, apabila reaksi anak tengah sudah mengarah pada konflik keluarga seperti konflik anak tengah dengan orang tua atau konflik anak tengah dengan saudaranya, maka orang tua harus mengawali melakukan tindakan yang elegan.
Orang tua bisa mengajak anak berbicara dengan suasana yang egaliter atau sederajat, dengan mengurangi tendensi untuk membahas persoalan tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan apa yang dipikiran atau dirasakan anak.
“Dari situ orang tua bisa melakukan follow up dengan langkah pertama yang sangat ampuh adalah meminta maaf. Kemudian, orang tua berjanji untuk melibatkan semua anak seperti mengajak mengobrol, berbagi, termasuk untuk meminta pertimbangan," pungkasnya.
