Mengenali Tanda Psikopat pada Anak

Tak ada orang tua yang ingin memiliki anak dengan riwayat psikopat. Tapi nyatanya, kelainan jiwa yang membuat penderitanya memiliki sedikit empati dan rasa bersalah ini terbentuk bukan semata-mata dari pengaruh film atau bacaan.
Kasus pembunuhan yang dilakukan remaja pada bocah di Jakarta baru-baru ini cukup membuat bergidik. Betapa tidak, si pelaku mengaku melakukannya secara spontan dan tak menyesal setelahnya.
Mengutip penjelasan psikolog Rebecca Waller BA, MSc, PhD (DPhil), seorang ahli child psychopathology di laman Psychology Today, setidaknya ada lima tanda yang ditunjukkan anak-anak dengan kelainan perilaku menjurus ke psikopat.
Tanda-tanda tersebut di antaranya, anak tidak tampak merasa bersalah setelah berbuat kesalahan, hukuman tidak mengubah perilaku mereka, anak-anak yang tidak mau berbagi dan egois, berbohong, bersikap licik dan manipulatif.
Orang tua bisa saja tak nyaman dengan label psikopat yang di alamatkan ke anak-anak mereka. Tapi menurut Mark Dadds, psikolog yang mempelajari perilaku antisosial pada anak dari Universitas New South Wales, semakin orang tua menyangkal, maka si anak semakin terlambat mendapat pendampingan.
"Hasil penelitiannya sudah menunjukkan kalau temperamen mereka bisa diidentifikasi sejak anak-anak. Dan itu jelas sekali," kata Mark Dadds seperti dikutip dari artikel Can You Call a 9-Year-Old a Psychopath? yang dimuat di The New York Times pada 11 Mei 2012.
Lalu darimana anak-anak yang masih polos itu bisa bertindak menyimpang?
Hasil penelitian seorang kriminolog dari Universitas Indiana, Amerika, Nathalie Fontaine menunjukkan, kejahatan yang dilakukan anak banyak dipengaruhi susunan otak dan saraf mereka.
Menurut Nathalia, anak-anak yang punya kecenderungan psikopat bisa terdeteksi di usia 7-12. Hal ini tampak dari hasil rekam otak mereka yang menunjukkan "porsi" amigdala lebih sedikit.
Amigdala adalah bagian dari otak yang mengolah ingatan, mengatur reaksi emosi, mengirim perasaan menyesal, dan rasa bersalah. Pada anak yang memiliki proposi amigdala lebih sedikit, mereka masuk kategori callous and unemotional (CU) yang berarti tidak berperasaan dan tidak emosional.
Nathalie menyebut, anak-anak dengan sifat-sifat ini telah terbukti memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi psikopat saat dewasa.
Meski begitu, sifat CU ini tidak menetap hingga anak dewasa. "Masih belum terlambat. Anak-anak dengan sifat CU masih bisa diintervensi untuk memiliki perasaan asal orang tua, lingkungan, dan keluarga tidak mengabaikan perasaan, pikiran, dan kehadirannya," kata Nathalie seperti dikutip dari Live Science.
Serupa dengan pendapat Nathalie, psikolog Dustin Pardini dari Universitas Pittsburgh Medical Center menemukan, empat dari lima anak yang terlibat kriminal saat anak-anak tidak mengulanginya saat mereka dewasa.
