Miris Wayang Potehi di Surabaya Sepi Penonton, Audrey Rancang Museum Potehi

Sebuah klenteng di Surabaya, Klenteng Hong Tiek Hian, memainkan Wayang Potehi setiap harinya. Namun sayang, pertunjukan tersebut kadang tidak memiliki penonton. Padahal Wayang Potehi merupakan kesenian yang menyimpan banyak pesan bermakna.
Berangkat dari itu, Audrey Ryuka Puspita Darmosugondo, calon wisudawan Architecture Petra Christian University (PCU) menginisiasi desain bangunan dari Museum Wayang Potehi di Kembang Jepun. Museum tersebut didesain Audrey tepat berada di samping klenteng.
Audrey mendesain museum Potehi untuk meningkatkan spirit of place dari kawasan pecinan tersebut.
“Surabaya adalah kota metropolitan yang meninggalkan jejak kolonialisme, sehingga permukimannya dipetakan berdasarkan etnis, salah satunya kawasan Pecinan, seperti Kembang Jepun, yang menjadi saksi bisu perjalanan Kota Surabaya. Namun identitasnya kini mulai hilang, tidak terlihat adanya fasilitas kebudayaan,” jelas Audrey, Kamis (11/9).
Lahir dari latar belakang masalah yang kompleks, yaitu kehilangan identitas budaya, Audrey pun memilih tema "Kembang Jepun’s Secret Stage, Revealing the Potehi Legacy Amidst Trade" sebagai narasi utama dalam perancangan arsitektur.
Museum yang didesainnya memiliki dua bagian, yaitu museum perjalanan masuknya Wayang Potehi secara multisensori ke daerah setempat, dan Galeri Wayang Potehi. Desain tersebut dapat dilihat dalam dua maket berukuran 42 x 59.4 cm dengan skala 1:500 dan 1:1400.
“Museum ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pameran, tapi juga sebagai ruang yang mengundang pengunjung untuk ‘menemukan kembali’ warisan budaya yang tersembunyi,” terang Audrey.
Gadis dengan impian menjadi seorang arsitek yang memiliki pengaruh dalam pelestarian budaya dan pengembangan berkelanjutan itu juga berharap, karya desainnya ini dapat menjadi landmark baru, serta menghidupkan kembali ‘Spirit of Place’ dari kawasan Pecinan.
