Konten Media Partner

Monopoli Jajanan Sehat, Cara Pintar Latih Anak Selektif Pilih Jajanan

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Monopoly Jajanan Sehat. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Monopoly Jajanan Sehat. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra

Bermain sambil belajar, inilah teknik pembelajaran yang efektif untuk anak-anak. Melalui permainan Monopoli Jajanan Sehat yang dibuat Rizaldi Heru Susanto, anak-anak bisa dengan mudah mengenali kandungan berbahaya pada jajan yang beredar di sekitar mereka.

Cara bermain Monopoli Jajanan Sehat ini sama dengan monopoli pada umumnya. Bedanya, deretan nama-nama kota diganti dengan informasi jajanan yang menyehatkan dan yang berbahaya.

"Jadi permainan ini untuk memberikan informasi pada anak mengenai jajanan sehat dan tidak sehat yang biasanya dijual di sekolah-sekolah. Terus ada informasi mengenai kandungan dan efek yang ditimbulkan dari jajanan tersebut," jelas mahasiswa Keperawatan UM Surabaya ini pada Basra (5/8).

Dalam permainan ini, Rizal mengganti istilah 'bebas parkir' menjadi 'bebas terhindar jajanan tidak sehat' dan 'masuk penjara' diganti dengan masuk rumah sakit akibat jajanan tidak sehat. Selain itu ada juga kartu 'Jelajan' atau Jelajah Jajan dan Dana Sehat.

Rizaldi Heru Susanto, pembuat Monopoli Jajanan Sehat.

Permainan Monopoli Jajanan Sehat ini bisa dimainkan anak-anak 9-12 tahun. "Di usia ini (10-11 tahun) anak sudah bisa memahami, membaca pesan-pesan dari kartu permainan," kata Rizal.

Inovasi karya Rizal ini juga telah di uji coba pada anak-anak di daerah sekitar Gubeng dan Medokan Sampir. Dari hasil uji coba tersebut, ternyata monopoli jajanan sehat ini mampu mencegah anak-anak untuk tidak membeli jajanan yang kurang sehat.

Ke depannya, pria kelahiran Kediri, 12 Mei 1995 ini akan terus mengembangkan dan menyebarkan permainan tersebut pada anak-anak di Indonesia khususnya di Surabaya.

"Desainnya akan saya kembangkan lagi dan disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak," pungkasnya. (Reporter : Amanah Nur Asiah/Editor : Windy Goestiana)