Ortu Patut Waspada, Pakar Ungkap Faktor Anak Bisa Terjebak dalam Prostitusi

Konten Media Partner
25 Mei 2024 7:57 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak korban prostitusi. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak korban prostitusi. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Belum lama ini warga Surabaya dihebohkan dengan kasus prostitusi yang terjadi di Kota Pahlawan, yakni dengan tertangkapnya muncikari yang mempekerjakan anak di bawah umur. Tren prostitusi anak di bawah umur saat ini menjadi keprihatinan berbagai pihak, pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Ramainya kasus tersebut turut ditanggapi Dosen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Gusmaniarti.
Menurutnya, faktor secara umum keterlibatan anak di bawah umur dalam kegiatan prostitusi di pengaruhi oleh tekanan ekonomi dan pengakuan yang kurang baik dalam keluarga.
Gusmaniarti memandang banyak generasi muda saat ini senang sekali berkelompok dalam kehidupan. Mereka membuat “geng” yang solid dan kompak dengan moto “1 sakit, sakit semua”. “satu senang, senang semua“. Moto ini menjadi kekuatan yang berisiko besar apabila digunakan pada aktivitas yang kurang baik.
“Sehingga solidaritas dan kekompakan yang dibangun membuat mereka tidak mampu menolak ajakan teman yang sudah bergabung terlebih dahulu dalam lingkaran prostitusi. Lifstyle konsumtif dalam kehidupan kelompok bisa juga menjadi faktor tambahan terjadinya prostitusi tersebut," ujar Gusma dalam keterangannya, seperti dikutip Basra, Sabtu (25/5).
ADVERTISEMENT
Gusma lantas memberikan tips untuk orang tua agar anak-anaknya terhindar dari prostitusi di bawah umur.
“Pertama dengarkan dan hargai. Lihatlah mereka dengan kacamata perkembangan umur dan kebutuhannya dengan memperlakukan mereka sesuai kondisinya saat ini. Kebutuhan dihargai dan di dengar menjadi kunci kenyamanan nya berinteraksi di rumah,” papar Gusma.
Kedua, orang tua menciptakan suasana keakraban dan kenyamanan di mana pun berada. Menurut Gusma untuk menciptakan momen ini tidak harus dengan tempat yang mahal dan khusus. Misal ngobrol di meja makan, di dapur, di kebun, dan di kamar sebelum anak-anak tidur. Dengan cara yang sederhana ini akan menciptakan kehangatan antara orang tua dan anak.
Ketiga, jadilah orang tua yang modern, demokratis dan millenial. Artinya dalam hal ini orang tua bisa memposisikan dirinya sebagai teman, orang tua dan sahabat.
ADVERTISEMENT
Keempat, perhatikan kebutuhan mereka. Anak-anak yang sudah berumur 12 tahun ke atas kadang kala sudah merasa malu meminta uang kepada orang tuanya, ia sudah mulai bisa berpikir “aku merepotkan orang tua” .
“Hal tersebut perlu diperhatikan oleh orang tua agar anak tidak terjerumus dengan mencari uang dengan cara yang instan,” tandas Gusma.