Konten Media Partner

Ortu Sering Lakukan Kekerasan Verbal ke Anak Bisa Picu Anak Jadi Pelaku Bullying

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pranedia Nilamsari, S.Psi,.M.Psi, Psikolog. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Pranedia Nilamsari, S.Psi,.M.Psi, Psikolog. Foto: Masruroh/Basra

Sering dijumpai di masyarakat orang tua yang kerap melontarkan kata-kata kasar atau bicara dengan nada tinggi terhadap anak. Hal ini perlu diwaspadai. Pasalnya anak yang sering menerima kekerasan verbal dapat memicunya menjadi pelaku bullying.

"Tidak hanya kekerasan fisik, tapi kekerasan verbal yang sering diterima anak bisa memicu si anak jadi pelaku bullying di luar rumah," ungkap Pranedia Nilamsari, S.Psi,.M.Psi, Psikolog, saat ditemui Basra usai menjadi pembicara dalam talkshow 'Kesehatan Mental' yang digelar Santika Premiere Gubeng Surabaya, (25/8).

Pranedia melanjutkan, orang tua sering kali tidak menyadari telah berkata kasar pada anak. Biasanya ini terjadi ketika anak tidak segera melaksanakan perintah orang tua.

"Biasanya apa yang dilakukan anak tidak sesuai dengan ekspektasi orang tua. Ini yang sering memicu orang tua berkata kasar pada anak, seperti mengumpat dan lain sebagainya," jelas Pranedia.

Pranedia menegaskan kekerasan verbal yang sering diterima anak dampaknya lebih berbahaya jika dibanding kekerasan fisik. Jika kekerasan fisik akan menimbulkan luka pada tubuh dan masih bisa diobati, namun kekerasan verbal dapat membuat anak trauma seumur hidup.

"Saya itu selalu mengibaratkan anak seperti kertas putih, ketika kertas putih ini sering dicoreti dengan tinta warna hitam pastinya warna kertas itu akan berubah menjadi hitam, gelap. Sebaliknya, jika kertas putih itu sering dicoreti dengan warna yang lebih ceria, warna-warni ya, itu akan jauh lebih enak dipandang ya kertasnya," tuturnya.

"Nah ucapan itu sama seperti tinta-tinta yang saya sebut tadi. Ketika anak diucapkan dengan negatif terus itu akan tertanam di pikiran anak, mengendap di pikiran anak. Sehingga dia tumbuh dengan perilaku yang cenderung negatif," sambungnya.

Selain trauma, anak yang sering menerima kekerasan verbal akan memicunya menjadi pelaku bullying. Pasalnya, sejak kecil sudah tertanam hal-hal yang negatif di pikirannya.

"Watak (negatif) sudah terbentuk ya, sehingga nantinya dia akan mencari pelampiasan di luar. Kalau di rumah dia merasa lemah karena sering diumpat, dan lain sebagainya, maka dia akan menunjukkan powernya di luar," jelas Pranedia.

Meminta maaf pada anak usai berkata kasar bisa dilakukan orang tua sebagai upaya mengurangi dampak negatif dari kekerasan verbal. Namun Pranedia mengakui tak semua orang tua bisa melakukannya.

"Kadang orang tua itu gengsi minta maaf sama anak. Komunikasikan ke anak alasan kenapa orang tua sampai marah. Tapi kan banyak orang tua enggak mau menjelaskan ke anak kenapa sampai marah-marah," ujarnya.

Orang tua juga perlu mengontrol diri. Kekerasan verbal dari orang tua kepada anak lebih sering terjadi karena apa yang dilakukan anak tidak sesuai ekspektasi atau apa yang dimau orang tua.

"Kadang orang tua lupa mengontrol diri, maunya anak selalu nurut sama orang tua. Kalau anak nggak nurut, marah-marah. Jadi orang tua juga perlu ya mengontrol diri," tandasnya.