Konten Media Partner

Pasar Burung dan Batu Akik Dolly, Wajah Baru Wisma Barbara

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto-foto : Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Foto-foto : Masruroh/Basra

Sebuah bangunan dua lantai dengan dominasi cat berwarna putih menarik perhatian orang yang melintas di kawasan Kupang Gunung Timur gang I, kawasan eks lokalisasi Dolly Surabaya. Selain karena bangunan tersebut masih baru, suara kicau burung yang bersahutan dari dalam bangunan tersebut mengundang siapa saja yang melintas untuk menoleh ke arahnya.

Sebuah papan dominasi warna biru bertuliskan 'Pasar Burung & Batu Akik Dolly' terpampang di depan bangunan tersebut.

Sejak seminggu terakhir bangunan yang berdiri di bekas wisma Barbara itu ramai dikunjungi mereka yang hendak membeli pakan burung ataupun sekedar melepas penat sembari bersantap kuliner.

"Tempat ini memang masih baru, malah belum diresmikan Pemkot (Pemerintah Kota Surabaya) tapi sudah ada pedagang yang berjualan," ujar Sukateno, petugas keamanan Pasar Burung & Batu Akik Dolly saat ditemui Basra, Sabtu (14/3).

Terdiri dari dua lantai, bangunan tersebut memiliki 37 stan, masing-masing 26 stan di lantai satu yang diperuntukkan bagi pedagang burung, pakan burung, dan batu akik. Sedangkan 11 stan di lantai dua merupakan sentra kuliner.

Sukateno yang juga merupakan warga setempat itu lantas menuturkan jika kehadiran 'Pasar Burung & Batu Akik Dolly' itu tak terlepas dari aspirasi warga. Warga, kata Sukateno, mengajukan pendirian bangunan tersebut kepada Pemkot Surabaya agar dapat membantu perekonomian mereka. Maka tak heran jika pedagang di tempat tersebut merupakan warga sekitar.

Pembangunan gedung tersebut dilakukan sejak awal April 2019 dan baru rampung pada Januari 2020. Peresmian gedung tersebut sejatinya dijadwalkan pada 13 Maret 2020 namun urung dilakukan.

"Tadinya tanggal 13 kemarin diresmikan, tapi batal ndak tau kenapa, dan ndak tau juga kapan akan diresmikan," ujar Sukateno.

Terdiri dari dua lantai, bangunan tersebut memiliki 37 stan, masing-masing 26 stan di lantai satu yang diperuntukkan bagi pedagang burung, pakan burung, dan batu akik. Sedangkan 11 stan di lantai dua merupakan sentra kuliner.

Namun dari pengamatan Basra, tak terlihat satu pun pedagang batu akik di tempat tersebut. Hal inipun juga dibenarkan Sukateno.

"Pedagang batu akiknya memang belum masuk, mungkin nanti setelah diresmikan baru masuk," tukas pria yang dipercaya Pemkot Surabaya sebagai petugas keamanan sejak awal pendirian Pasar Burung & Batu Akik Dolly ini.

Selain nantinya akan dapat membantu perekonomian warga sekitar, Sukateno berharap kehadiran Pasar Burung tersebut dapat lebih mengubah stigma negatif di kawasan eks lokalisasi Dolly.

"Dolly memang sudah ditutup tapi image nya tempat ini kan masih tempat begituan (prostitusi). Semoga nanti Dolly makin dikenal sebagai tempat sentra ekonomi rakyat," tukas Sukateno mengakhiri perbincangan dengan Basra.