Konten Media Partner

Pemerhati Satwa Liar Sebut Pertunjukan Topeng Monyet Melanggar Hukum

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Pixabay.

Belum lama ini warga Surabaya digegerkan dengan video seorang balita ditarik seekor monyet hingga terseret dan terluka. Saat itu, si balita bersama beberapa orang sedang menyaksikan pertunjukan topeng monyet di sekitar rumahnya.

Tentu saja hal ini menyita perhatian banyak pihak, salah satunya dokter hewan sekaligus fotografer satwa liar, Dr. Boedi Setiawan, MP., Drh.

instagram embed

Pria yang akrab disapa Cak Boeseth ini mengungkapkan jika pertunjukan topeng monyet tersebut telah melanggar Surat Gubernur Jatim Nomor 522/368/002.3/2019 tentang Pelanggaran Penyelenggaraan Pertunjukan Topeng Monyet di Jawa Timur.

"Harusnya pertunjukan topeng monyet sudah nggak boleh dilakukan, kan sudah ada Pergub-nya. Karena itu (pertunjukkan topeng monyet) melanggar kesejahteraan pada hewan. Kegiatan itu sudah melanggar hukum," ungkap Cak Boeseth ketika dihubungi Basra pada Selasa (5/5).

Pixabay.

Lebih lanjut, Staf Pengajar Departemen Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ini menjelaskan jika apa yang dilakukan monyet tersebut merupakan bentuk pemberontakan hewan karena kesejahteraannya telah dirampas manusia.

Menurutnya, kera ekor panjang (macaca fascicularis) harusnya berada di habitat aslinya yakni di hutan. Namun, oleh manusia kera tersebut diambil dari hutan dan dilatih untuk pertunjukan topeng monyet.

Dalam pelatihan itu, Cak Boeseth menduga adanya penyiksaan yang dilakukan kepada kera tersebut dan menyebabkan kera itu berontak.

"Yang kemarin kemungkinan hewannya itu lemah, capek, tapi tetap dipaksa. Misal kalau psikisnya atau emosinya terganggu dia akan menunjukkan naluri liarnya itu tadi yang dapat membahayakan manusia," jelasnya.

Untuk mencegah hal itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat yang memelihara satwa liar agar mengembalikan satwa tersebut ke habitat aslinya. Hal itu dilakukan, selain untuk melestarikan satwa, juga menghindarkan manusia dari adanya risiko penularan penyakit dari satwa liar tersebut.

"Jadi kalau kita menjaga lingkungan, lingkungan akan menjaga kita. Dan itu sebaliknya. Karena sebagai manusia, kita harus bersifat rahmatan lil 'alamin," tutupnya.