Perjuangan We Lie Chan, Odapus Cilik yang Masih Semangat Sekolah

Berpawakan kecil, We Lie Chan tergolong anak yang aktif. Siswa kelas 2 sekolah dasar di kawasan Jalan Tidar itu tak hentinya berlari kesana kemari. Sang ibu, Nur Erlin Idayati, selalu mengingatkan We Lie agar tak terlalu lelah. Kondisi kelelahan bisa berakibat fatal bagi We Lie, yang mengidap penyakit lupus.
Lupus merupakan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh sendiri.
Vonis lupus harus diterima We Lie saat berusia 5 tahun. Saat itu We Lie sebenarnya sedang sakit ginjal bocor. Tapi dari hasil pemeriksaan justru diketahui We Lie juga terkena lupus.
"Saat dokter bilang We Lie sakit ginjal bocor, hati saya sudah hancur. Apalagi saat diberitahu We Lie juga kena lupus, dunia rasanya kiamat bagi saya," kata Nur, dengan mata berkaca-kaca, saat ditemui Basra, Kamis (16/5).
Nur tak pernah membayangkan sebelumnya jika putra sulungnya itu divonis lupus mengingat tak ada dalam garis keluarganya yang menderita lupus.
Meski sempat tak bisa menerima apa yang menimpa We Lie, namun Nur berusaha tegar. Ketegaran Nur dan sang suami, Chan Joe Sing, sangat dibutuhkan We Lie untuk menjalani hari-harinya sebagai odapus (orang dengan lupus).
Nur bersyukur karena We Lie tergolong anak yang kuat. Bahkan kepada lingkungan sekitarnya, We Lie selalu menegaskan jika dirinya baik-baik saja.
"Dia selalu bilang, mama aku ini tidak sakit, aku baik-baik saja. Itu yang membuat saya kuat dan bangga pada We Lie," tegas wanita yang menetap di kawasan Jalan Semarang ini.
Hidup sebagai odapus membuat We Lie sangat bergantung pada asupan obat-obatan. Setidaknya We Lie harus mengonsumsi 8 jenis obat setiap harinya seumur hidup. Ini terkadang membuat Nur tak tega. Namun tak ada pilihan lain agar We Lie bisa bertahan hidup. Sehari saja dia tak mengonsumsi obat akan berakibat fatal baginya.
"Cukup berisiko jika dia tidak konsumsi obat. Ada beberapa odapus cilik yang tidak bisa bertahan hidup, salah satunya karena kurang disiplin mengonsumsi obat," jelas Nur.
Selain harus rutin mengonsumsi obat, We Lie juga tak bisa terkena paparan sinar matahari secara langsung. Ini juga yang membuat We Lie tak bisa mengikuti kegiatan upacara maupun aktifitas olahraga di luar ruangan.
"Dia pernah pingsan di sekolah karena kelelahan. Syukurlah, sekolah mengerti bagaimana kondisi We Lie. Bahkan saat We Lie sedang nge drop dan tidak bisa sekolah selama berhari-hari, sekolah bisa memahami," ujar Wakil Ketua Komunitas Lupus Cilik Surabaya (Kolucuya) ini.
Meski odapus namun We Lie memiliki prestasi gemilang di sekolah. Nilai ulangan bidang studi matematika We Lie selalu menjadi yang terbaik di kelasnya.
"We Lie anak yang luar biasa, dan saya akan lakukan apapun untuk dia bisa bertahan hidup," kata Nur menutup perbincangan. (Reporter : Masruroh / Editor : Windy Goestiana)
