Pernah Jadi Designer of The Year 2018, Karina Setia Berkarya di Indonesia

Konten Media Partner
27 September 2022 12:10
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pernah Jadi Designer of The Year 2018, Karina Setia Berkarya di Indonesia (513326)
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Sukses meraih sejumlah penghargaan di luar negeri, desainer muda Indonesia Karina Ayu Ghimas tak lantas tergoda untuk berkarya di negeri orang. Karina lebih memilih berkarya di Indonesia dengan membuka butik pertamanya baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
Sederet penghargaan yang diraih perempuan kelahiran tahun 1997 ini bermula saat ia sukses meraih penghargaan ‘Designer of The Year 2018’ dari sekolah fashion internasional Istituto Marangoni Milan Italia. Di sekolah ini Karina berhasil mengalahkan 200 mahasiswa lainnya.
Penghargaan yang diterima Karina bertambah. Karyanya yang menggabungkan budaya Indonesia dan western terinspirasi dari gaun berkuda para bangsawan perempuan Eropa abad 19 juga menang perhargaan yang digelar di Istituto Marangoni London yang para pesertanya merupakan pemenang dari tiga cabang kampus Istituto Marangoni, yakni Milan, Paris, dan London.
Gaun itu menggunakan bahan kain bercorak garis-garis, di mana menampilkan detail bentuk mai dari sisi kanan rok yang memiliki beberapa side saddle, namun tetap menyelipkan songket melalui siluet dan background story-nya.
ADVERTISEMENT
Guna mempercantik pengguna gaun, Karina kemudian memoles topi khas Padang Sumbar dengan aksen bulu-bulu, menambahkan aksesoris pelana kuda sehingga bentuk topi terlihat lebih berkarakter.
Kemenangan dalam lomba tersebut kemudian menghantarkan Karina mendapat beasiswa S-2 dan diberi kebebasan untuk memperdalam ilmu desain di Istituto Marangoni Paris atau di London. Karina pun memilih London dan berhasil menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Pilihan S-2 di London ternyata juga merupakan berkah, karena Karina justru mendapatkan ilmu desain yang semakin lengkap akibat adanya perbedaan karakter pendidikan antara Milan dan London.
“Jika di Milan Italia kita dituntut bisa mendesain gaun yang cantik, indah, bagus dan modern. Di London berbeda karena kita justru dituntut menghasilkan karya-karya yang inovatif sehingga bisa tetap bertahan hingga beberapa tahun ke depan,” paparnya, Selasa (27/9).
ADVERTISEMENT
Setelah lulus S-2 di London, Karina tidak memilih berkarier di luar negeri. Dia memutuskan berkarya di tanah air.
Pemilik brand ‘Karina Ghimas’ itu ingin memanjakan para penyuka desain-desain hasil karyanya.
"Bagi saya berdiskusi langsung dengan kastamer merupakan hal penting karena sebelum membuat rancangan atau desain busana saya harus benar-benar memahami keinginan mereka," kata Karina.
Karina mengaku baru dua bulan menekuni dunia desain secara profesional. Karina ingin fokus pada desain custom made attires atau busana pesanan khusus, mulai dari wedding dress, pre-wedding, kebaya, hingga baju kurung.
“Kalau style aku sendiri pasti ada klasiknya. Jadi kalau kebaya, ya tetap kebaya klasik, tapi detailnya modern,” tukasnya.