kumparan
10 Sep 2019 11:06 WIB

Pneumonia, Penyakit Paru Penyebab Kematian Anak yang Tertinggi

Paru-paru manusia punya banyak peranan penting. Selain memompa udara yang masuk untuk dipisahkan antara oksigen dan karbon dioksida, paru-paru juga berfungsi sebagai pelindung organ hati dari guncangan, pengendali pH darah, dan banyak lainnya.
ADVERTISEMENT
Jika paru-paru mengalami kerusakan, tak hanya menurunkan fungsi organ tubuh lain, tapi juga dapat berdampak pada hilangnya nyawa seseorang. Salah satu penyakit paru-paru yang cukup menyumbang angka kematian tertinggi adalah Pneumonia, khususnya pada anak-anak.
"Pneumonia adalah penyakit yang banyak terjadi, yang menginfeksi kira-kira 450 juta orang per tahun dan terjadi di seluruh penjuru dunia. Pada 2015, WHO melaporkan hampir 6 juta anak balita di dunia meninggal dunia, 16 persen dari jumlah tersebut disebabkan pneumonia," kata dr. Bony Pramono, Sp. A, dokter spesialis anak RSI A Yani Surabaya, kepada Basra, Senin (9/9).
Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (Unicef), lanjut dr. Bony, pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia.
ADVERTISEMENT
Pneumonia atau yang sering disebut sebagai paru-paru basah atau radang paru-paru, terutama disebabkan infeksi dari bakteri atau virus dan jarang dijumpai disebabkan oleh fungi dan parasit. Walaupun terdapat lebih dari 100 jalur agen infeksi yang telah diidentifikasi, namun hanya beberapa yang bertanggung jawab atas mayoritas kasus yang ada.
"Infeksi bersama dengan virus beserta bakteri dapat muncul hingga sebanyak 45 persen infeksi pada anak-anak dan 15 persen infeksi pada orang dewasa. Angka ini paling besar terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun," ujarnya.
dr. Bony mengungkapkan, tanda-tanda balita mengalami pneumonia adalah terjadi peningkatan frekuensi napas sehingga anak tampak sesak. Selain itu, jika diamati pada daerah dada tampak tarikan dinding dada bagian bawah setiap kali anak menarik napas.
ADVERTISEMENT
Takipneu atau napas cepat merupakan tanda pneumonia yang penting. Oleh sebab itu, kader kesehatan di puskesmas juga diajarkan untuk mengenali tanda awal pneumonia ini dengan cara menghitung frekuensi napas selama 1 menit. Batasan frekuensi napas cepat pada bayi berusia 2-12 bulan 50 kali per menit, sedangkan usia 1-5 tahun 40 kali per menit.
"Selain takipneu, balita yang mengalami perburukan gejala ditandai dengan gelisah, tidak mau makan ataupun minum, kejang atau sianosis yakni kebiruan pada bibir, bahkan penurunan kesadaran," imbuhnya.
Untuk menanggulangi pneumonia, ada tiga langkah utama yang dicanangkan oleh WHO, yaitu proteksi balita, pencegahan pneumonia, dan tata laksana pneumonia yang tepat.
Proteksi ditujukan untuk menyediakan lingkungan hidup yang sehat bagi balita, yaitu nutrisi yang cukup, ASI eksklusif sampai bayi usia 6 bulan, dan udara pernapasan yang terbebas dari polusi seperti asap rokok, asap kendaraan, dan asap pabrik.
ADVERTISEMENT
Pemberian ASI eksklusif sendiri dapat menurunkan kejadian pneumonia pada balita sebesar 20 persen.
Pencegahan bayi dari sakit karena pneumonia terutama dilakukan dengan memberikan imunisasi lengkap. Ini mencakup beberapa jenis imunisasi yang terkait pneumonia dapat menurunkan kejadiannya sebesar 50 persen.
"Sekali anak terkena pneumonia bisa berulang karena seringnya penyakit ISPA pada anak yang tidak tertangani dengan baik. Tersedianya antibiotik juga memudahkan untuk mengobati sesuai dengan infeksi yang terjadi, sehingga pneumonia bisa sembuh total," pungkasnya.
(Reporter: Masruroh/Editor: Windy Goestiana)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan