Konten Media Partner

Program Double Track, Kiat Pemprov Jatim Tekan Jumlah Pengangguran SMA

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kunjungan tim ITS ke SMA Double Track. Foto-foto : Dok. ITS
zoom-in-whitePerbesar
Kunjungan tim ITS ke SMA Double Track. Foto-foto : Dok. ITS

Tingginya jumlah lulusan SMA di Jawa Timur yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran baru. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Pendidikan Jatim menyiapkan program double track SMA/Madrasah Aliyah.

Menurut Fajar Baskoro, Koordinator Pengolah Data Double Track dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, double track merupakan sistem pembelajaran yang menggabungkan wawasan akademik ditambah ekstra kurikuler yang berupa keterampilan teknis dan digital.

Sistem double track dikonsep sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti minimal satu tahun. Program ini terdiri tujuh bidang keterampilan meliputi multimedia, teknik elektro, teknik listrik, tata boga, tata busana, tata kecantikan, dan teknik kendaraan ringan dengan 17 belas bidang keahlian.

"Keterampilan tersebut bisa membantu mereka bisa bekerja atau berwirausaha, sehingga mereka tidak berpotensi menambah angka pengangguran," kata Fajar pada Basra, Senin (25/11).

Keterampilan tata boga SMA 1 Karas.

Fajar bercerita, akhir pekan kemarin tim ITS telah melakukan kunjungan ke sekolah di Magetan dan Ngawi yang sudah menerapkan sistem double track. Untuk di Magetan yakni ada SMA Negeri 1 Plaosan dan SMAN 1 Karas.

Di Ngawi cuma di SMAN 1 Kendal. Hasilnya, cukup menggembirakan dimana siswa yang tidak melanjutkan kuliah di sekolah tersebut telah memiliki bekal keterampilan diantaranya desain grafis dan tata boga.

"Intinya progam double track ini ditujukan pada sekolah SMA/MA yang memiliki lebih dari 50 persen lulusannya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Dan kebanyakan memang berada di daerah pinggiran Jawa Timur," simpulnya.

Dari data yang dimiliki Pemprov Jatim pada 2018 menunjukkan, ada sekitar 116.772 atau 67,84 persen siswa SMA tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya karena berbagai macam kondisi.

"Mereka ini jika tidak mendapatkan perhatian khusus dan memperoleh intervensi dari para pemangku kebijakan, maka akan menyumbangkan pada jumlah pengangguran dan akan bermuara pada kondisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur," tukasnya," kata Fajar.

Sementara itu data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim pada Februari 2019 mencatat, jumlah angkatan kerja di Jatim sebanyak 21,59 juta orang atau naik sebanyak 584 ribu orang dibanding Februari 2018.

Sedangkan jumlah pengangguran di Jatim juga bertambah menjadi 16,82 ribu orang dalam setahun terakhir. Untuk jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 20,76 juta orang atau bertambah 567 ribu orang dari Februari 2018.