Psikolog Ungkap Penyebab Seseorang Memilih Childfree
·waktu baca 2 menit

Fenomena childfree masih menjadi sorotan publik. Pasalnya, di Indonesia sendiri, keputusan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dianggap cukup mengejutkan sehingga menuai pro dan kontra.
Menanggapi hal ini, Dr Nur Ainy Fardana N MSi Psikolog, mengatakan, jika childfree merupakan pilihan pribadi dari seseorang.
“Kita tidak boleh menghakimi pilihan seseorang karena hak untuk memiliki anak atau tidak merupakan pilihan pribadi. Yang penting, jangan mudah ikut arus dan masyarakat harus kritis,” ucapnya, Rabu (22/2).
Neny mengungkapkan, ada beberapa kemungkinan alasan seseorang memilih childfree. Pertama, ingin fokus terhadap karier, hobi, ataupun cita-cita. Kedua, adanya masalah kesehatan yang dialami. Ketiga, adanya trauma di masa lalu.
Keempat, adanya perasaan takut terhadap tanggung jawab dan komitmen yang besar saat memiliki anak. "Misalnya, berkaitan dengan biaya hidup, perlindungan anak terhadap ancaman kekerasan, dan lain sebagainya. Kelima, seseorang merasa tidak cocok menjadi orang tua atau bahkan tidak tertarik untuk memiliki anak," ungkapnya.
Neny menyebut, dampak positif ketika seseorang memilih childfree yaitu menghindari risiko sakit yang mungkin dialami, baik secara fisik maupun mental. Selain itu seseorang menjadi lebih fleksibel dalam memilih gaya hidup karena tidak terikat oleh anak.
Di sisi lain, fenomena childfree juga mempunyai negatif. Misalnya saja, merasa kesepian dan terisolasi karena tidak memiliki tempat untuk menyalurkan kasih sayang, terlebih jika tidak mendapat pemenuhan dukungan emosional dari pasangan.
"Lalu tidak adanya dukungan sosial dan finansial ketika tua dari anak. Ketiga, tidak ada seseorang yang akan meneruskan warisan genetik ataupun menerima harta warisan ketika sudah meninggal," tambah Dosen Fakultas Psikologi Unair ini.
Untuk itu, dalam menanggapi fenomena ini, Neny berpesan kepada masyarakat Indonesia agar berpikir kritis sebelum memutuskan untuk memiliki anak atau tidak.
Hal ini dikarenakan jika memutuskan untuk childfree seseorang harus siap dengan dampak positif dan negatifnya. Selain itu, seseorang harus siap dengan tekanan keluarga dan masyarakat yang memandang childfree sebagai pilihan yang tidak lazim.
“Harus benar-benar melihat bahwa childfree harus dipertimbangkan dampak positif dan negatifnya,” tukasnya.
