Rekreasi Kota Kolonial, Cara Baru Menikmati Surabaya

Tak hanya Jakarta yang punya wisata kota tua peninggalan Belanda, di Surabaya juga ada kompleks bangunan kolonial yang tersebar di penjuru kota pahlawan.
Dulu, pemerintah Belanda membuat sistem permukiman berdasarkan golongan etnis dan lapisan sosial.
Permukiman Belanda dan Eropa terletak di sekitar Jembatan Merah dan Simpang, yang kemudian berkembang ke arah Selatan, Keputran, Ketabang, Darmo, dan Jalan Gubeng. Sementara pemukiman orang-orang Tionghoa di kawasan Kembang Jepun, Kapasan dan Pasar Atom, sementara orang-orang Arab di kawasan permukiman sekitar Masjid Ampel.
Permukiman Eropa disebut Boven stad (kota bawah) yang kemudian dikembangkan menjadi areal hunian bagi orang-orang Eropa. Ada begitu banyak restoran, bioskop, hotel, pusat perbelanjaan, dan klub dansa tersedia di kawasan ini.
Sedangkan di kawasan Tunjungan (Petoendjoengan straat) dikenal sebagai pusat komersial di Surabaya. Karena itu sejumlah pertokoan ternama seperti Whiteaway Laidlaw & Co dan Hoen Kwee Huis ikut memeriahkan kawasan ini. Ikon ternama Jalan Tunjungan yang ada sejak dulu adalah Hotel Yamato yang menjadi saksi perobekan bendera Belanda dalam serangan 10 November 1945. Di Tunjungan tempo dulu juga ada lintasan kereta trem yang membuat kawasan ini jadi makin ramai.
Untuk urusan perut, ara elit Eropa saat itu senang berkuliner di Renato Zangrandi’s Ijsplais serta Grimm and Co maupun Hellendoorn. Kedua toko es krim ini menjual bermacam pilihan roti, pastri, maupun Rijsttafel yang sangat populer kala itu. Khusus Zangrandi telah ada sejak 1930. Menu es krim potong Tutti Frutti jadi menu es paling tua di Zangrandi.
Setelah puas berkuliner penghuni Surabaya jaman dulu senang menghabiskan waktu di Balai Pemuda (De Simpangsche Societeit) atau sudut Jalan Simpang untuk berkumpul.
Gedung Balai Pemuda didirikan pada tahun 1907. Tempat ini salah satu tempat hiburan dan berkumpulnya orang-orang eropa (khususnya Belanda) di Surabaya. Pada masa kolonial adalah hanya orang-orang kulit putih yang memiliki akses masuk ke gedung ini.
Sampai hari ini, toko es krim Zangrandi di Jalan Yos Sudarso No.15 masih ada dan ramai dikunjungi. Begitu juga dengan kawasan Jalan Tunjungan dan Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo yang masih jadi sentra kegiatan seni hingga kini.
Bila sedang berada di Surabaya, ada program Rekreasi Kota Kolonial yang digagas Surabaya Heritage Track. Program tur gratis ini diadakan mulai 7 Juni - 30 Juni 2019 khusus di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu jam 15.00 - 16.30 WIB. (Windy Goestiana)
