Remaja di Bojonegoro Kecanduan Hirup Aroma Pertalite, Ini Efeknya
·waktu baca 2 menit

Seorang remaja warga Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro, Jawa Timur, kecanduan menghirup bensin sejak masih duduk di bangku TK. Remaja bernama Farhan Abimanyu (17} itu bahkan mengaku pusing dan lemas jika tidak menghirup bensin.
Dosen FK Unair Surabaya, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, dr Wiwin Is Effendi, SpP(K), PhD, FAPSR menjelaskan jika bahan bakar seperti tiner, lem bakar atau lem tembak, menimbulkan efek kecanduan karena mengandung toluena hingga benzena.
"Tapi kalau pertalite setahu saya benzena isinya, yang apabila dihirup dalam waktu lama bisa menimbulkan efek kecanduan," ujarnya kepada Basra, Jumat (5/5) malam.
"Prinsipnya itu sama seperti kecanduan lainnya, seperti kecanduan rokok. Sederhananya begini, kita menghirup pertama, makin lama tubuh itu makin butuh jumlah yang banyak untuk dihirup agar membuat tenang. Makanya kenapa anak di Bojonegoro itu kecanduan karena itu tadi (bisa membuat tenang). Mungkin saja dia pernah tidak pernah menghirup (aroma pertalite) kemudian merasakan tidak enak semua (di badan) akhirnya dia kembali menghirup lagi," jelasnya lagi.
Menurut Wiwin, kecanduan menghirup aroma pertalite tersebut bisa menimbulkan dampak gangguan kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Jangka pendeknya akan merasa pusing, bahkan saat tidak menghirup aroma pertalite tubuh akan terasa tidak nyaman.
Sedangkan dampak gangguan kesehatan jangka panjangnya yakni memberikan efek pada saluran pernapasan.
"Itu yang dihirup kan zat yang tidak sewajarnya jadi pasti akan memberikan efek pada saluran pernapasannya. Mungkin bisa sel-sel epitel di saluran pernapasan menjadi rusak atau mati, sehingga dalam jangka panjang bisa memunculkan peluang penyakit paru kronis. Parunya bisa menjadi molor, dia merasa sesak napas," paparnya.
"Sel-sel epitel di saluran pernapasan kan membantu mengeluarkan benda-benda asing yang masuk, dikeluarkan melalui dahak yang cukup. Nah kalau sel epitelnya rusak, produksi dahak ini bisa tidak beraturan sehingga bisa menimbulkan penyakit paru itu tadi," sambungnya.
Wiwin melanjutkan, benzena bisa dikategorikan sebagai zat karsinogenik yang bisa menimbulkan penyakit kanker, seperti kanker paru ataupun kanker darah.
Wiwin menandaskan agar tidak sampai menimbulkan efek gangguan kesehatan tersebut maka kecanduan menghirup aroma pertalite harus segera dihentikan.
"Terapinya ya harus dijauhkan. Memang awalnya dia akan merasa nggak enak semua, tapi tidak apa-apa. Awalnya memang begitu. Saya lihat (kondisi anak) belum jelek banget, kondisi anaknya masih bugar, jadinya harus segera dijauhkan," tandasnya.
"(Menghirup aroma pertalite) ini sudah termasuk kelainan ya. Mungkin saat ini secara fisik belum ada gangguan tapi secara mental anak ini butuh untuk dikonsultasikan ke psikolog," simpulnya.
