Riset Kolokium Sebut Anak Muda Alami Krisis Informasi Rekam Jejak Para Caleg

Konten Media Partner
6 Februari 2024 8:11 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua Peneliti Kolokium.id Suko Widodo. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Peneliti Kolokium.id Suko Widodo. Foto: Masruroh/Basra
ADVERTISEMENT
Pemungutan suara pemilihan legislatif (pileg), termasuk Pemilu Anggota DPD RI, secara serentak dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2024 digelar pada tanggal 14 Februari 2024. Berdasarkan riset independen Kolokium.id terungkap adanya krisis informasi di kalangan anak muda terkait rekam jejak dan visi misi dari para caleg.
ADVERTISEMENT
Ketua Peneliti Kolokium.id Suko Widodo mengatakan, Pemilu 2024 saat ini cenderung terfokus pada dinamika pemilihan presiden. Akibatnya, anak muda kehilangan pemahaman mendalam terkait caleg.
"Para caleg inilah yang sebenarnya memiliki peran krusial dalam membuat undang-undang dan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari," ujar pria yang kerap disapa Sukowi ini dalam keterangannya, seperti dikutip Basra, Selasa (6/2).
Hasil riset Kolokium.id menyebut bahwa sebanyak 81,7 persen anak muda menilai visi misi caleg adalah faktor utama dalam menentukan pilihan politik mereka.
Sedangkan 72,1 persen menyatakan bahwa rekam jejak tokoh politik memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan politik anak muda dalam menentukan pilihan.
"Para caleg seharusnya menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat. Sayangnya, banyak dari mereka gagal menyampaikan visi, misi, dan rekam jejaknya secara terbuka. Inilah penyebab anak muda mengalami krisis informasi dalam memilih wakilnya di legislatif," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Sukowi melanjutkan, di era digital ini seharusnya para caleg memiliki kesempatan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan pemilih potensial mereka melalui platform online atau media sosial.
Menurut Sukowi, kampanye yang transparan dan informatif dapat memberikan gambaran yang lebih jelas kepada pemilih, khususnya generasi muda yang aktif di dunia maya.
Sejalan dengan itu, riset Kolokium juga mengungkapkan bahwa sumber informasi utama bagi anak muda dalam mencari informasi politik adalah media digital, khususnya media sosial yang mencapai 74 persen.
Di sisi lain, penggunaan media konvensional seperti baliho tidak lagi diminati oleh anak muda, yang melihatnya sebagai perusak keindahan. Menyikapi itu, Sukowi menekankan perlunya perubahan strategi kampanye.
Ia menyarankan agar para caleg memikirkan cara efektif menggunakan media sosial sebagai alat kampanye. Bukan sekadar memindahkan informasi dari baliho ke media sosial, tetapi mengoptimalkan media sosial sebagai alat penyampaian informasi interaktif, yang mampu menjangkau masyarakat secara terbuka.
ADVERTISEMENT
"Keterbatasan akses informasi terkait visi, misi, dan rekam jejak caleg menjadi perhatian serius. Ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan perubahan pendekatan dalam kontestasi politik. Para pemilih muda harus diberikan akses lebih luas dan transparan terhadap informasi politik agar dapat membuat keputusan lebih informasional dan terdidik," tandasnya.