Konten Media Partner

Sakit Lambung Tak Hanya karena Gaya Hidup Tapi Bisa Disebabkan Infeksi Bakteri

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sakit lambung. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sakit lambung. Foto: Pixabay

Helicobacter pylori merupakan salah satu bakteri yang berperan penting dalam berbagai spektrum penyakit gastrointestinal, mulai dari gastritis—atau yang lazim dikenal dengan sebutan maag—hingga kanker lambung yang ganas.

Infeksi H. pylori memiliki prevalensi tinggi di banyak daerah seperti di Afrika dan Asia Timur yang dilaporkan masing-masing sebesar 79,1% dan 56,1%. Meskipun prevalensi H. pylori tinggi, namun kejadian kanker lambung cukup bervariasi.

Di Indonesia sendiri infeksi H. pylori masih jarang terjadi dan ini menjadi PR sejumlah pakar terutama terkait diagnosisnya.

Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., FINASIM, Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi Universitas Airlangga. Foto: Masruroh/Basra

"Pylori cukup rendah, di Surabaya saja hanya sekitar 2,8 persen," ujar Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., FINASIM, Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi Universitas Airlangga, saat dijumpai Basra, Rabu (11/10).

Menurut Profesor Miftah, demikian ia kerap disapa, pylori adalah sebuah bakteri yang mengubah mindset seluruh dokter di seluruh dunia bahwa sakit lambung tidak hanya disebabkan oleh gaya hidup atau stres, tetapi bisa juga karena adanya proses infeksi.

"Sehingga pengobatannya berbeda. Kalau sakit lambung karena gaya hidup itu pengobatannya secara psikologis, ngatur pola makan. Dengan adanya pylori maka ada pemberian anti virus," jelasnya.

Di Indonesia, kata Profesor Miftah, setiap sakit lambung tidak bisa dikategorikan terinfeksi pylori. Sehingga dalam penelitian selanjutnya sudah ditunjukkan jika pylori ini tergantung etnis.

"Kalau kita (pakar) ketemu etnik Batak, Bugis, Papua, maka ada kecenderungan untuk berpikir pylori dibanding ketemu orang Jawa, Sunda, atau keturunan Melayu," tukasnya.