Konten Media Partner

Satgas COVID-19: Mayoritas Warga Bangkalan Tak Patuh Pakai Masker

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Panglima TNI Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, saat berkunjung ke Kabupaten Bangkalan, Sabtu (12/6). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Panglima TNI Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, saat berkunjung ke Kabupaten Bangkalan, Sabtu (12/6). Foto: Istimewa

Kasus COVID-19 di kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, belum ada tanda-tanda penurunan. Berdasarkan data Satgas COVID-19 Jatim, Jumat (11/6) kemarin, terdapat tambahan kasus baru sebanyak 82 orang. Angka ini naik dari sehari sebelumnya dengan tambahan 75 kasus baru. Sedangkan pasien yang sembuh bertambah 11 orang. Adapun pasien meninggal bertambah 7 orang.

Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat Bangkalan dalam memakai masker menjadi salah satu penyebab melonjaknya kasus COVID-19 di wilayah tersebut. Bahkan kini status Bangkalan telah beralih menjadi zona oranye dari sebelumnya yang masuk zona kuning.

Berdasarkan laporan Satgas COVID-19 kabupaten Bangkalan, angka kepatuhan bermasker dari masyarakat hanya sebesar 49,28 persen. Sedangkan angka kepatuhan jaga jarak masih lebih baik yakni sebesar 61,72 persen.

Masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam bermasker di wilayah tersebut pun turut disinggung Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Listyo dalam kunjungannya ke Bangkalan bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Sabtu (12/6), menekankan pentingnya penggunaan masker di kalangan masyarakat.

"Perlu adanya strategi dalam rangka mengembalikan kondisi Bangkalan.

Dibutuhkan pula keseriusan dari semua pihak," tukas Kapolri.

Sementara itu Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam kesempatan tersebut mengungkapkan beberapa permasalahan terkait penanganan COVID-19 di Bangkalan.

"Ada tiga permasalahan yang harus segera diselesaikan di Bangkalan. Pertama, masih banyaknya OTG yang masih berkeliaran. Kedua, tenaga kesehatan banyak yang terpapar COVID-19. Ketiga, angka kematian pasien COVID-19 yang tinggi serta belum optimalnya pelaksanaan vaksinasi," jelas Hadi.

Hadi lantas menuturkan strategi yang harus dilaksanakan dalam menangani COVID-19 di Bangkalan. Di antaranya mengajak tokoh masyarakat di Bangkalan untuk mengampanyekan gerakan 3M yang menyangkut memakai masker, mencuci tangan sebelum maupun sesudah beraktivitas, dan menjaga jarak satu sama lain.

Kemudian testing dan tracing, kata Hadi, perlu ditingkatkan untuk menjaring warga yang terpapar COVID-19.

"Optimalkan juga fungsi PPKM mikro dan pastikan peningkatan pelayanan rumah sakit untuk pasien terinfeksi," tegasnya.

Panglima TNI juga meminta agar program vaksinasi segera dituntaskan.

Basra pun mencoba mengungkap alasan warga Bangkalan enggan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Syafriuddin, warga kecamatan Burneh misalnya. Dia enggan memakai masker karena merasa tak nyaman saat berbicara harus memakai masker.

"Mun ngganggui masker kadi sesek, tak nyaman (kalau pakai masker seperti sesak nafas, tidak nyaman). Orang di desa saya juga pada nggak pakai masker. Kalau pakai masker paling pas mau ke Surabaya atau ke kota (Bangkalan kota), takok e tangkep mun tak ngganggui masker (takut ditangkap kalau tidak pakai masker)," jelas pria yang kerap disapa Udin ini.

Saat ditanya tentang adanya COVID-19, Udin mengakui jika dirinya percaya virus itu hanya ada di kota-kota besar.

"Kalau di sini kan desa (nggak ada COVID-19)," tukasnya.