Konten Media Partner

Segarnya Sirup Markisa Khas Kampung Markisa Surabaya

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Minuman markisa olahan warga Kampung Markisa, Surabaya. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Minuman markisa olahan warga Kampung Markisa, Surabaya. Foto-foto : Amanah Nur Asiah/Basra

Sirup markisa memang jadi oleh-oleh khas kota Medan. Tapi untuk menikmati segarnya sirup markisa yang tanpa pengawet, warga Surabaya bisa datang ke Kampung Markisa di Jalan Kembang Kuning I RT 8 RW 9 Surabaya.

Wiji Sulistiono, penggagas Kampung Markisa mengatakan, warga di kampungnya memang menanam dan mengolah buah markisa untuk dijadikan sari markisa dan sirup markisa.

Awalnya olahan markisa tersebut dikonsumsi secara pribadi. Namun, sejak kampungnya mendapat julukan tersebut ia mulai memproduksi dan menjualnya.

"Karena waktu itu kan pohon markisanya lagi berbuah, apalagi di sini (Kembang Kuning I) dijuluki Kampung Markisa. Paling tidak kampung ini punya satu produk unggulan, akhirnya saya coba cari referensi di internet tentang olahan buah markisa. Saya buat menjadi sirup dan minuman," ucap Wiji ketika ditemui Basra pada Kamis (13/2).

Dalam proses pembuatan sirup dan minuman markisa, Wiji lebih dulu membelah markisa menjadi dua bagian. Kemudian, daging buah dikerok dan diambil bagian isinya, lalu dihaluskan menggunakan blender. Selanjutnya, markisa yang telah diblender tersebut disaring.

"Hasil saringannya ini kemudian direbus dengan air. Takarannya 500 ml air markisa, dan satu liter air mineral. Terus ditambahkan dengan gula dan garam secukupnya. Terus tunggu sampai airnya berbuih," jelas pria yang juga menjadi Ketua RW 9 Kembang Kuning ini.

Setelah matang, air rebusan tadi disaring kembali agar terlihat jernih. "Setelah itu olahan bisa dinikmati. Kalau untuk dijual biasanya saya masukan dalam botol kemasan berukuran 500 ml," kata Wiji.

Dalam sekali panen, Wiji bisa memproduksi setidaknya 10 botol dalam satu bulan. Untuk sirup, dijual Rp 20 ribu per botol, sedangkan minuman markisa dijual Rp 10 ribu per botol.

"Jadi untuk produksinya tergantung dari hasil panen. Saya tidak menarget satu bulan harus memproduksi berapa botol," ungkapnya.

Wiji menambahkan, jika produk olahannya tidak menggunakan campuran bahan pengawet. Sehingga bisa tahan hingga dua bulan.

Melalui produk olahannya, Wiji berharap warga bisa mempromosikan Kampung Markisa. Selain itu masyarakat bisa lebih mengetahui tentang buah markisa dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

"Lewat produk ini kan juga bisa memperkenalkan potensi kampung kepada masyarakat luas, dan ke depan olahan markisa ini bisa menjadi pendapatan tambahan untuk warga sekitar," pungkasnya.