Konten Media Partner

Sekolah di Surabaya yang Miliki Siswa Minim akan Dilebur

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (tengah). Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (tengah). Foto: Masruroh/Basra

Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya, kekurangan siswa usai penerimaan peserta siswa didik baru (PPDB) pada tahun ajaran baru 2023/2024. Sekolah tersebut hanya memiliki satu siswa baru. Terkait hal ini Pemkot Surabaya berencana akan melebur sekolah tersebut.

"Ya nanti akan kita lebur jadi satu. Tapi kita lihat dulu ya jumlah-jumlahnya," ujar Eri saat ditemui Basra usai acara 'Adifiesta Anak Istimewa', Kamis (20/7).

Eri menuturkan sekolah yang memiliki jumlah siswa minim bisa jadi karena kualitas yang dimilikinya. Pasalnya orang tua ketika memilih sekolah pastinya melihat kualitas yang dimiliki.

"Sekolah e iki kualitas e apik opo nggak (sekolahnya ini kualitasnya bagus atau tidak), pendidikannya bagus apa tidak, gurunya seperti apa. Sehingga anaka-anak ada yang tidak ingin mendaftar di sana, akhirnya ada sekolah swasta yang banyak siswanya, ada yang siswanya sedikit. Ini berarti kan menunjukkan kualitas sekolah bukan berarti dia tidak mendapatkan siswa tapi karena tidak ada yang mau mendaftar," papar Eri.

Lebih lanjut Eri mengungkapkan alasan lain sekolah memiliki jumlah siswa minim, yakni adanya kecenderungan orang tua yang ingin anaknya masuk ke sekolah pendidikan agama.

"Masuk ke tempat pendidikan yang seperti pondok pesantren. Banyak yang seperti ini," imbuhnya.

Eri menegaskan setiap anak berhak memilih sekolah yang diinginkan. "Meskipun ada sekolah yang kita bukakno tapi (siswa) gak gelem masuk. Jadi kita harus instrospeksi," tukasnya.

Eri mengimbau sekolah SD dan SMP swasta memperbaiki kualitas untuk mengatasi masih adanya kekurangan murid. Ia meminta setiap sekolah agar introspeksi dan berbenah dari segala faktor, mulai dari infrastruktur hingga sumber daya manusia (SDM).

“Saya berharap dengan kualitas yang baik, baik itu dari segi infrastuktur, guru, maka itu bisa membuka peluang agar murid bisa masuk ke sekolah,” tandasnya.