Konten Media Partner

Sekolah Kembali Pakai Buku Cetak, Angin Segar Bagi Pelaku Industri Grafika

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta pameran percetakan Surabaya Printing Expo (SPE) 2025. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Peserta pameran percetakan Surabaya Printing Expo (SPE) 2025. Foto: Masruroh/Basra

Di tengah perkembangan era digital, sejumlah negara maju justru memilih untuk kembali ke buku dan teks cetak, serta membiasakan peserta didik menulis tangan. Hal ini juga mulai dilakukan dunia pendidikan Indonesia yang bersiap menyambut era baru yaitu kembalinya buku cetak ke ruang kelas siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Kebijakan tersebut disambut gembira oleh para pelaku industri grafika di tanah air.

“Maraknya buku digital memang memengaruhi industri percetakan secara signifikan. Tapi negara-negara maju pun kini kembali menggunakan buku cetak sebagai media belajar utama,” ujar Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira, disela pembukaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2025, Rabu (9/7).

Mughira melanjutkan, meski mesin percetakan masih didatangkan dari luar negeri, namun setidaknya kegiatan produksi percetakan dilakukan di Indonesia. Apalagi potensi industri percetakan di tanah air cukup terbuka lebar.

"Jatim misalnya memiliki banyak percetakan, bahkan Timor Timur saja pesan buku di (percetakan) Surabaya. Ini kan potensi yang perlu ditingkatkan lagi," tuturnya.

Menurut Ahmad, gelaran Surabaya Printing Expo (SPE) 2025 yang sedang berlangsung di Convention Hall Grand City turut menambah geliat positif industri grafika di dalam negeri.

"Harapan kami dengan adanya SPE 2025 ini, para pengusaha grafika nasional dapat selalu mengupdate diri dan fasilitas peralatan mesin-mesin grafikanya serta mengambil manfaatnya untuk dapat bertambah maju," tandasnya.